Pemerintah Kabupaten Berau mulai menggeser fokus pembangunan ekonomi daerah dengan memperkuat sektor non-ekstraktif, menyusul adanya pembatasan regulasi di sektor pertambangan. Langkah ini dipandang penting untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan daerah selama ini sempat terlalu bergantung pada sektor tambang dan perkebunan. Namun, dengan adanya regulasi yang membatasi luasan pertambangan, pemerintah didorong untuk mengoptimalkan potensi sektor lain.
“Kita hari ini setelah sempat terlena dengan sektor tambang dan perkebunan, dan saat ini ada regulasi sebuah batasan untuk luasan sektor tambang khususnya di Kabupaten Berau,” ujar Gamalis.
Ia menilai situasi tersebut menjadi momentum untuk melakukan transformasi ekonomi. Sejumlah sektor seperti pariwisata, perikanan, pertanian, dan perkebunan disebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
“Hingganya kita perlu meningkatkan potensi-potensi sektor lain, seperti pariwisata, perikanan, perkebunan, dan pertanian,” lanjutnya.
Menurut Gamalis, pengembangan pariwisata menjadi salah satu fokus karena dinilai berpotensi memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Meski demikian, ia menegaskan penguatan sektor ini akan dilakukan secara bertahap, termasuk pemenuhan kebutuhan jaringan dan fasilitas penunjang bagi wisatawan.
“Apalagi ini merupakan langkah untuk meningkatkan PDRB, salah satunya pariwisata. Kita tentu akan step by step menuju ke arah kesempurnaan, baik itu jaringan bagi wisatawan dan fasilitas,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri dalam mendorong pengembangan sektor-sektor tersebut. Kolaborasi dengan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan disebut menjadi kunci keberhasilan.
“Tentu hal-hal ini ada supporting dari pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh stakeholder yang ada,” katanya.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah infrastruktur pendukung, khususnya jaringan internet. Gamalis mengakui pemerintah telah menyediakan sekitar 1.000 titik jaringan gratis, namun jumlah itu dinilai belum mencukupi. Selain itu, dalam kurun lima tahun terakhir terdapat titik jaringan yang mengalami kerusakan sehingga perlu evaluasi dan perbaikan.
Ia juga menyebut kualitas jaringan menjadi keluhan utama wisatawan yang datang ke Berau. Karena itu, perbaikan jaringan akan menjadi fokus pemerintah daerah dalam waktu dekat.
“Ini akan kita fokuskan karena perwujudan dari visi misi,” pungkasnya.