BERITA TERKINI
Pelanggan Starlink Tembus 10 Juta, Strategi Harga dan Teknologi Jadi Penggerak Pertumbuhan

Pelanggan Starlink Tembus 10 Juta, Strategi Harga dan Teknologi Jadi Penggerak Pertumbuhan

Bisnis internet satelit Starlink menunjukkan pertumbuhan tajam sejak 2025, mengubah persepsi lama bahwa koneksi satelit hanya menjadi pilihan terakhir bagi wilayah pedesaan. Dalam satu tahun, jumlah pelanggan Starlink dilaporkan naik dari 4,5 juta menjadi 9 juta. Pada Februari 2026, jumlah pengguna resmi disebut telah menembus 10 juta.

Salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut adalah penurunan harga paket serta biaya perangkat yang semakin terjangkau. Di Inggris, biaya berlangganan Starlink bahkan diklaim lebih rendah dibanding paket termurah BT. Kondisi ini menandai pergeseran posisi Starlink dari sekadar solusi cadangan menjadi pesaing langsung penyedia layanan internet (ISP) tradisional.

Strategi harga dua jalur

Starlink menerapkan pendekatan harga yang berbeda di tiap pasar. Di negara maju seperti Amerika Serikat dan sejumlah wilayah Eropa, perusahaan menurunkan biaya bulanan dan menawarkan skema penyewaan perangkat tanpa biaya. Sementara itu, di pasar berkembang seperti Indonesia dan Brasil, harga tetap berada di level premium, seiring tingginya permintaan.

Peningkatan kapasitas lewat satelit baru

Dari sisi teknologi, Starlink mengandalkan peningkatan kapasitas jaringan melalui satelit V2 Mini yang disebut mampu mendongkrak kapasitas hingga 600 Tbps. Fitur Inter-Satellite Links (ISL) juga diklaim membantu menurunkan latensi sekaligus memperluas jangkauan layanan. Selain itu, lebih dari 650 satelit Direct-to-Cell telah diluncurkan untuk memperkuat keandalan jaringan.

Dampak ke pasar dan rencana IPO

Pertumbuhan Starlink turut mendorong ekspektasi pasar terhadap SpaceX. Perusahaan disebut siap melaksanakan penawaran saham perdana (IPO) pada 2026, dengan perkiraan valuasi mencapai US$800 miliar atau sekitar Rp13,3 kuadriliun. Investor menilai Starlink sebagai sumber utama pendapatan SpaceX, dengan laju pertumbuhan yang disebut sembilan kali lebih cepat dibanding bisnis peluncuran roket.

Di sisi kebijakan, pemerintah juga mulai meninjau ulang arah subsidi jaringan fiber. Program seperti BEAD di Amerika Serikat dilaporkan bergeser ke strategi “technology-neutral”, yang membuka peluang bagi Starlink untuk bersaing memperoleh pendanaan publik.

Tantangan regulasi dan ketergantungan peluncuran

Meski pertumbuhan kuat, Starlink menghadapi sejumlah risiko. Salah satu tantangan utama adalah ketergantungan pada jadwal peluncuran SpaceX. Di saat yang sama, regulasi terkait kepadatan orbit dan polusi cahaya disebut semakin ketat.

Ke depan, Starlink berencana memperluas pasar, termasuk masuk ke India, serta menjajaki kemitraan dengan operator besar seperti Deutsche Telekom. Dengan satelit V3 yang disebut siap diluncurkan, kapasitas jaringan diperkirakan akan meningkat secara signifikan.