Seorang pejabat keamanan informasi Taiwan memperingatkan bahwa pengguna aplikasi navigasi asal Tiongkok, AMap, berisiko membocorkan lokasi waktu nyata serta jejak digital mereka ke server yang berada di Tiongkok.
Aplikasi tersebut belakangan menjadi perhatian di Taiwan karena kemampuannya menampilkan hitung mundur lampu lalu lintas secara akurat dan real time.
Direktur Jenderal Keamanan Siber Taiwan, Tsai Fu-longe, mengatakan penggunaan AMap telah dilarang di instansi pemerintah berdasarkan Undang-Undang Manajemen Keamanan Siber.
Menurut Tsai, fitur hitung mundur lampu lalu lintas pada AMap dapat bekerja melalui deteksi pergerakan lalu lintas secara waktu nyata. Ia menyebut, kemampuan itu didukung data geografis yang disediakan HERE Technologies, perusahaan berbasis di Belanda.
Tsai menambahkan, AMap belum banyak digunakan di Taiwan. Ia memperkirakan sebagian besar pengguna kemungkinan merupakan pebisnis yang kerap bepergian antara Taiwan dan Tiongkok, serta orang-orang yang berencana mengunjungi Tiongkok.
Dengan merujuk pada Undang-Undang Intelijen Nasional dan Undang-Undang Keamanan Siber Tiongkok, Tsai menyatakan bahwa warga negara Tiongkok diwajibkan bekerja sama dalam pekerjaan intelijen pemerintah, termasuk terkait akses dan penggunaan data pribadi yang sensitif.
“Kami ingin mengingatkan warga di Taiwan untuk tidak menggunakan AMap, karena lokasi, jejak digital, dan data sensitif lainnya dapat bocor,” kata Tsai.
Ia juga menyampaikan bahwa Chen akan meminta Institut Nasional Keamanan Siber melakukan pengujian terhadap aplikasi tersebut untuk mengidentifikasi risiko keamanan informasi. Hasil pengujian direncanakan diumumkan dalam konferensi pers pada Mei.