BERITA TERKINI
PDGI Sulselbar Gelar Rakerwil 2025–2030 di Makassar, Prof. Fuad Dorong Transformasi Layanan Berbasis Riset

PDGI Sulselbar Gelar Rakerwil 2025–2030 di Makassar, Prof. Fuad Dorong Transformasi Layanan Berbasis Riset

Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Wilayah Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang dirangkaikan dengan seminar ilmiah dan bakti sosial di Hotel Horison Ultima Makassar, Sabtu (25/4/2026). Agenda ini menjadi bagian dari penyusunan arah kebijakan organisasi untuk periode 2025–2030, sekaligus merespons tantangan kesehatan gigi dan mulut yang dinilai semakin kompleks.

Dalam forum tersebut, Prof. drg. Fuad Husain Akbar, MARS., Ph.D., FISQua dari Departemen Penelitian dan Publikasi PDGI Sulselbar menekankan perlunya transformasi layanan kedokteran gigi yang bertumpu pada riset dan inovasi. Menurutnya, persoalan kesehatan gigi tidak lagi cukup ditangani dengan pendekatan konvensional, melainkan membutuhkan penguatan data, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor.

“Permasalahan kesehatan gigi di Indonesia tidak lagi bisa diselesaikan dengan pendekatan konvensional. Kita membutuhkan lompatan inovasi berbasis data, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Prof. Fuad saat memaparkan program kerja.

Prof. Fuad memperkenalkan sejumlah program yang disebut berpotensi menjadi model, tidak hanya untuk Sulselbar tetapi juga skala nasional. Salah satunya adalah penguatan big data kesehatan gigi melalui pengembangan sistem database terintegrasi berbasis wilayah. Sistem ini ditujukan untuk memetakan prevalensi penyakit gigi dan mulut, termasuk karies dan penyakit periodontal, kebutuhan layanan restoratif, serta distribusi dokter gigi, sebagai dasar kebijakan berbasis bukti.

Program lain yang disorot adalah teledentistry untuk wilayah pesisir dan terpencil. Layanan ini dirancang sebagai sarana konsultasi dan skrining awal berbasis digital dengan konsep sederhana, biaya rendah, dan mudah diakses, termasuk bagi masyarakat dengan literasi teknologi yang terbatas.

Selain itu, PDGI Sulselbar juga menyiapkan inovasi preventif berbasis potensi lokal, antara lain pengembangan produk kesehatan dari bahan setempat. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pemanfaatan biomaterial kalsium dari tulang ikan untuk pencegahan karies dan remineralisasi enamel, yang sekaligus disebut memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat.

Di tingkat layanan primer, Prof. Fuad menyampaikan rencana penguatan sistem pelayanan di puskesmas melalui pendekatan pengalaman pasien (patient experience) dan peningkatan kualitas interaksi tenaga kesehatan. Di sisi pengembangan ilmiah, ia juga memaparkan roadmap publikasi internasional untuk mendorong kualitas publikasi dokter gigi Indonesia, melalui strategi pemilihan jurnal bereputasi, peningkatan metodologi riset, dan kolaborasi internasional.

Prof. Fuad menilai tantangan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia masih besar, termasuk tingginya prevalensi karies serta kesenjangan akses layanan di daerah terpencil. Ia menekankan perlunya pendekatan yang lebih sistemik karena persoalan tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, dan budaya.

“Isu kita bukan hanya klinis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan budaya. Karena itu, pendekatan sosiologi dan antropologi kedokteran gigi menjadi sangat relevan dalam merancang intervensi yang tepat sasaran,” katanya.

Rakerwil PDGI Sulselbar juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara organisasi profesi, pemerintah, akademisi, dan industri untuk mempercepat implementasi program kerja yang telah dirumuskan. Dengan agenda inovasi dan kemitraan tersebut, PDGI Sulselbar menyatakan optimistis dapat berperan dalam transformasi layanan kedokteran gigi di Indonesia.