Blaize Holdings, Inc dan PT Datacomm Diangraha menjajaki kolaborasi teknologi untuk mengembangkan solusi kecerdasan buatan (AI) inference di Indonesia, dengan fokus pada kebutuhan sektor industri, keamanan, dan logistik. Kerja sama ini ditujukan untuk memperluas pemanfaatan AI yang lebih aplikatif di berbagai sektor.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam seremoni Gitex Asia 2026 di Singapura. MoU itu menjadi langkah awal kedua perusahaan untuk mengeksplorasi pengembangan dan penerapan AI inference di pasar domestik.
Co-Founder dan Chief Executive Officer Blaize, Dinakar Munagala, menilai kawasan Asia Pasifik berada pada fase penting dalam perkembangan AI inference, dengan Indonesia sebagai salah satu pendorong pertumbuhan. Ia juga menyoroti posisi Datacomm yang dinilai memiliki fondasi infrastruktur serta relasi enterprise yang kuat.
Menurut Dinakar, kolaborasi ini diarahkan untuk menghadirkan solusi AI yang dapat dipakai secara nyata, mulai dari keamanan publik, infrastruktur cerdas, physical AI, hingga logistik. Ia menyebut platform AI Blaize yang dapat diprogram dan hemat energi menjadi salah satu basis pengembangan dalam kerja sama tersebut.
Indonesia sendiri disebut sebagai salah satu pasar AI dengan pertumbuhan tercepat di Asia Pasifik. Masuknya hyperscaler global, pengembangan infrastruktur digital berdaulat, serta ekspansi teknologi enterprise turut mempercepat adopsi AI di berbagai sektor.
Laporan Empowering Indonesia Report 2025 dari Indosat Ooredoo Hutchison dan Twimbit menyatakan sovereign AI berpotensi menyumbang hingga 140 miliar dollar AS terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2030, dengan pertumbuhan ekonomi tahunan mencapai 6,8 persen. Sementara itu, sektor AI Indonesia disebut tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 31 persen, tertinggi di Asia Tenggara, berdasarkan Digital in Asia (2026).
Dalam kerja sama ini, Blaize dan Datacomm memfokuskan eksplorasi pada pengembangan physical AI, keamanan publik, pengawasan, AI industri, dan logistik. Ruang lingkup yang dijajaki antara lain pengembangan AI inference as a service melalui integrasi platform Hybrid AI Blaize dengan DCloud, layanan cloud milik Datacomm, beserta infrastruktur data center perusahaan.
Kedua pihak juga mengeksplorasi berbagai use case seperti analitik video, smart surveillance, peningkatan keamanan fisik, serta optimalisasi logistik untuk sektor publik maupun enterprise. Pemanfaatan AI inference juga diarahkan untuk otomasi industri, termasuk teknologi computer vision dan sistem berbasis sensor.
Presiden Direktur sekaligus Founder Datacomm, Tan Wie Tjin, menyatakan perusahaan siap menyambut era AI setelah membangun kepercayaan pelanggan enterprise, instansi pemerintah, dan operator infrastruktur kritikal di Indonesia selama lebih dari tiga dekade. Ia menilai Indonesia berada di ambang transformasi AI yang signifikan, sementara kebutuhan akan solusi inference yang cerdas, scalable, dan aman terus meningkat.
Wie Tjin menilai aliansi dengan Blaize menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan tersebut. Ia menyebut kombinasi infrastruktur cloud dan data center Datacomm dengan platform AI inference Blaize menempatkan kedua perusahaan pada posisi yang dinilai mampu memenuhi permintaan pasar yang berkembang.
MoU ini bersifat non-binding dan menjadi kerangka awal kerja sama. Kedua pihak membuka peluang untuk melanjutkan ke proyek konkret melalui perjanjian lanjutan di kemudian hari, dengan prioritas pada pengembangan solusi AI inference yang aman, scalable, hemat energi, serta dapat terintegrasi dengan lingkungan cloud, data center, maupun infrastruktur fisik di Indonesia.