Lembaga pemantau keamanan siber NetBlocks menyatakan gangguan internet yang terjadi di Iran saat ini merupakan blokade internet nasional terlama yang pernah tercatat di dunia.
Menurut NetBlocks, pembatasan diberlakukan tak lama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Dalam pembaruan melalui media sosial, organisasi itu mengonfirmasi gangguan telah memasuki hari ke-37 berturut-turut, atau melampaui 864 jam, dengan tingkat keparahan yang disebut melampaui insiden serupa sebelumnya.
NetBlocks menjelaskan, sejumlah negara memang pernah mengalami pemutusan internet yang berlangsung lebih lama namun bersifat terputus-putus atau hanya terjadi di wilayah tertentu. Sementara itu, ada pula negara seperti Korea Utara yang disebut tidak pernah terhubung ke jaringan global. Namun, NetBlocks menilai skala pemutusan internet nasional di Iran dalam kasus ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Selama konflik, pemerintah Iran dilaporkan tetap mempertahankan jaringan internet domestik, tetapi menerapkan kontrol yang sangat ketat dengan membatasi akses warga pada platform-platform dalam negeri. Untuk terhubung ke jaringan internasional demi memperoleh pembaruan berita atau menggunakan platform media sosial yang dilarang seperti Instagram, banyak warga disebut harus memanfaatkan celah sinyal yang jarang terjadi dan menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN) untuk menyamarkan alamat akses mereka.
Pihak berwenang kemudian memperketat pengawasan dengan mengirimkan pesan peringatan mengenai potensi pemenjaraan atau penangkapan kepada individu yang dicurigai menggunakan VPN sejak pecahnya permusuhan. Sejumlah pengguna juga dilaporkan mencoba menghindari pembatasan melalui layanan satelit Starlink atau penyedia internet satelit lainnya, tetapi layanan tersebut juga dilarang oleh pemerintah.
Isolasi informasi yang berkepanjangan disebut berdampak pada kehidupan masyarakat. Seorang perempuan berusia 47 tahun di kota Isfahan, Iran tengah, mengatakan kepada AFP pada 4 April bahwa mereka terus-menerus harus mencari cara untuk kembali terhubung ke internet demi mendapatkan berita yang dapat diandalkan.
Sementara itu di Teheran, seorang pria berusia 53 tahun menggambarkan ketiadaan akses internet sebagai “seperti kekurangan oksigen,” yang membuatnya merasa sesak napas.
NetBlocks juga menyinggung bahwa pada awal Januari 2026, pemerintah Iran pernah memutus akses internet selama 18 hari di tengah pecahnya protes anti-pemerintah, sebuah peristiwa yang disebut mengakibatkan ribuan kematian.