BERITA TERKINI
Meta Rekam Klik dan Ketikan Karyawan untuk Latih AI, Picu Perdebatan Privasi di Tempat Kerja

Meta Rekam Klik dan Ketikan Karyawan untuk Latih AI, Picu Perdebatan Privasi di Tempat Kerja

Meta dilaporkan mulai merekam aktivitas karyawan secara rinci—mulai dari pergerakan kursor, klik mouse, hingga ketikan dan penggunaan shortcut keyboard—untuk melatih kecerdasan buatan (AI) generasi berikutnya. Langkah ini memicu pro dan kontra karena dinilai inovatif, namun sekaligus menimbulkan kekhawatiran terkait privasi di lingkungan kerja.

Menurut laporan Reuters pada 21 April 2026, Meta meluncurkan program internal bernama Model Capability Initiative (MCI). Melalui program tersebut, perusahaan mengumpulkan data dari aktivitas mikro karyawan di komputer untuk dijadikan materi pelatihan AI.

Pendekatan ini berbeda dari pelatihan AI konvensional yang umumnya mengandalkan data teks dan gambar dari internet. Meta disebut ingin mengembangkan AI agent yang mampu berinteraksi dengan antarmuka komputer seperti manusia, termasuk menavigasi menu dropdown, memilih tombol tertentu, hingga menjalankan tugas administratif secara mandiri.

CTO Meta Andrew Bosworth menggambarkan visi di mana AI akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan rutin, sementara manusia berperan sebagai pengarah dan evaluator. Strategi tersebut dipandang sebagai salah satu langkah agresif Meta dalam mengejar ketertinggalan dari pesaing besar di industri AI.

Meski menjanjikan dari sisi teknologi, kebijakan perekaman aktivitas kerja ini memunculkan perdebatan mengenai batas privasi dan pengawasan digital. Praktik seperti keylogging atau tangkapan layar sebelumnya dikenal digunakan dalam situasi tertentu, misalnya investigasi pelanggaran. Namun, ketika metode serupa diterapkan sebagai bagian dari riset AI, sebagian pihak menilai batas antara pengawasan dan inovasi menjadi semakin kabur.

Meta, melalui juru bicaranya Andy Stone, menyatakan data yang dikumpulkan tidak akan memengaruhi penilaian kinerja karyawan. Ia juga menyebut adanya perlindungan untuk data sensitif, meski belum ada penjelasan rinci mengenai jenis data apa saja yang dikecualikan dari proses pengumpulan.

Sejumlah pakar hukum, termasuk dari Yale University, menilai langkah ini mencerminkan pergeseran tren pengawasan di dunia kerja. Jika sebelumnya pengawasan ketat lebih umum diterapkan pada sektor gig economy atau pekerja lapangan, praktik serupa kini dinilai mulai merambah pekerja kantoran.

Program tersebut muncul di tengah transformasi Meta yang kian berfokus pada AI. Perusahaan disebut melakukan restrukturisasi, termasuk mengategorikan ulang sejumlah posisi menjadi “AI builder”, sebagai penanda perubahan arah bisnis. Di saat yang sama, terdapat laporan mengenai pengurangan tenaga kerja seiring pergeseran fokus ke otomatisasi berbasis AI.

Perkembangan ini menegaskan dilema klasik dalam teknologi: antara percepatan inovasi dan tuntutan etika. Di satu sisi, metode pelatihan berbasis aktivitas pengguna dapat mendorong AI yang lebih canggih dan efisien. Di sisi lain, transparansi serta perlindungan privasi karyawan menjadi isu krusial yang terus diperdebatkan.