Dunia tengah bersiap memasuki fase baru konektivitas. Jika 5G dikenal mempercepat komunikasi antarperangkat, generasi berikutnya—6G—diproyeksikan memperluas jangkauan jaringan hingga menyentuh aspek biologis manusia. Dalam konteks ini muncul konsep Internet of Bodies (IoB), yakni ekosistem perangkat yang menjadikan tubuh manusia sebagai bagian dari jaringan data global.
Dalam laporan RAND Corporation, IoB dijelaskan sebagai kumpulan perangkat yang memantau tubuh manusia, mengumpulkan data biometrik dan fisiologis, lalu mengirimkannya melalui internet. Teknologi ini digambarkan berkembang dalam tiga tingkatan: perangkat eksternal yang dipakai seperti smartwatch atau cincin pintar; perangkat internal yang ditanam atau ditelan seperti alat pacu jantung pintar dan sensor pil; serta teknologi invasif/tertanam yang dapat menyatu dengan sistem saraf atau aliran darah, termasuk chip RFID dan Brain-Computer Interface.
Peran 6G disebut berpotensi menjadi “jembatan” utama bagi IoB. Secara teknis, jaringan 6G yang diperkirakan hadir sekitar 2030 dirancang beroperasi pada frekuensi terahertz (THz). Mengacu pada IEEE Explore dan jurnal komunikasi teknis, 6G ditargetkan memiliki latensi mendekati nol dan kecepatan hingga 1 Tbps. Kapasitas ini dinilai penting untuk komunikasi dalam tubuh (in-body communications), karena sensor internal membutuhkan transmisi data yang cepat dan nyaris instan agar dapat berfungsi real-time, termasuk untuk pemantauan kesehatan kritis maupun sinkronisasi dengan kecerdasan buatan (AI).
Di tengah optimisme, muncul kebutuhan untuk membedakan antara riset medis yang sedang dikembangkan dan klaim yang belum terbukti secara ilmiah. Penelitian mengenai MEMS (Micro-Electro-Mechanical Systems) memang ada, termasuk eksplorasi “Neural Dust” oleh ilmuwan di UC Berkeley untuk memantau aktivitas saraf. Namun, klaim tentang penyebaran massal melalui “spray langit” atau vaksin hingga kini dikategorikan sebagai misinformasi oleh komunitas ilmiah global, dengan alasan keterbatasan hukum fisika dan tantangan manufaktur skala massal.
Dalam bidang medis, nanopartikel lipid juga kerap menjadi bahan perbincangan. Pada teknologi seperti vaksin mRNA, nanolipid digunakan sebagai kendaraan untuk mengantar zat aktif ke sel, bukan sebagai alat pelacak. Bahan ini bersifat organik dan disebut terurai dalam waktu singkat di dalam tubuh.
Contoh implementasi yang kerap dikutip datang dari Swedia. Perusahaan seperti Epicenter menawarkan penanaman chip RFID seukuran biji beras di tangan karyawan untuk akses pintu dan pembayaran. Praktik ini digambarkan bersifat sukarela dan menggunakan teknologi pasif, yakni chip hanya aktif ketika didekatkan ke alat pembaca.
Meski menjanjikan manfaat, IoB juga memunculkan kekhawatiran serius terkait privasi dan etika. Salah satu risiko yang sering dibahas adalah potensi “hacking tubuh” (bio-hacking). Jika perangkat medis dan sensor tubuh terhubung ke internet, muncul skenario perangkat dapat diretas atau dikendalikan pihak ketiga, misalnya pada alat pacu jantung atau sensor hormon.
Kekhawatiran lain adalah pengawasan total (mass surveillance). Data biologis dipandang sebagai data paling pribadi. Bila data semacam ini dikuasai korporasi atau otoritas, privasi manusia dikhawatirkan tergerus karena tubuh tidak lagi memiliki mode “offline”.
Di sisi lain, sebagian pemikir kritis dan tokoh agama menyoroti aspek fitrah dan ketuhanan. Mereka menilai perubahan tubuh menjadi “perangkat” dapat dipandang melanggar kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sekaligus berisiko menciptakan ketergantungan yang sangat besar pada infrastruktur digital buatan manusia.
Secara umum, teknologi 6G dan Internet of Bodies diproyeksikan membawa efisiensi besar dalam dunia medis, termasuk peluang deteksi dini penyakit sebelum gejala muncul. Namun, tanpa regulasi ketat dan pertimbangan etika yang mendalam, teknologi ini dinilai berpotensi bergeser menjadi alat kontrol yang mengancam kebebasan fundamental manusia. Karena itu, masyarakat diingatkan untuk memperbarui informasi dari sumber yang dinilai valid terkait kebijakan masa depan, sembari tetap waspada terhadap batas-batas privasi yang tidak semestinya dilanggar.