JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong mahasiswa dan perguruan tinggi memperkuat kontribusi riset serta inovasi di sektor pertanian, terutama yang dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Ia menekankan riset mahasiswa perlu diarahkan pada solusi konkret, bukan berhenti pada kajian akademik semata.
Amran menyampaikan hal itu usai menghadiri wisuda Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (19/4/2026). Menurutnya, Kementerian Pertanian membutuhkan inovasi yang bisa langsung direspons dan dimanfaatkan, salah satunya teknologi yang dikembangkan ITS.
Ia mencontohkan pengembangan traktor buatan ITS yang disebutnya dibuat sesuai kebutuhan yang diminta. Amran mengatakan pihaknya meminta 10 unit untuk uji coba dan menilai produk tersebut memiliki harga yang lebih terjangkau serta efisien.
“Yang menarik adalah setiap kami order teknologi baru sesuai kebutuhan negara itu dibuat langsung. Ini traktor buatan ITS kami minta 10 unit uji coba, harganya murah, efisien, efektif, dan terjangkau,” kata Amran.
Amran juga menyoroti keunggulan teknologi tersebut dari sisi energi karena tidak menggunakan solar, melainkan listrik. Ia menyebut harga traktor yang dikembangkan ITS sekitar separuh dari produk yang biasa digunakan.
“Harganya separuh dari yang biasa, kemudian efektif, tidak menggunakan solar tetapi menggunakan listrik. Jadi ini sangat hemat, tidak tergantung lagi dengan solar atau bensin, tetapi listrik,” ujarnya.
Selain alat dan mesin pertanian, Amran menyinggung riset energi alternatif berbasis sawit yang dinilainya strategis untuk terus diperkuat dan dijaga. Ia menyebut pengembangan “benwit” atau bensin sawit dan menyatakan rencana kerja sama melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan PTPN IV untuk memulai industri skala kecil sebelum diperluas.
“Kemudian ada lagi tadi benwit, bensin sawit, insya Allah langsung MoU kerja sama dengan PTPN IV. Kita buat industrinya skala kecil dulu, kalau ini berhasil kita buka skala besar. Dan kami minta Pak Rektor dan Pak Dekan, itu kawal dengan baik. Kenapa ini harus dijaga? Karena ini adalah energi masa depan Indonesia karena sumbernya adalah sawit,” kata Amran.
Dalam kesempatan yang sama, Amran menegaskan penguatan riset pertanian penting untuk menghadapi tantangan global yang menurutnya ditandai oleh tiga krisis besar: pangan, energi, dan air. Ia meminta solusi dapat dihadirkan secepatnya.
“Kondisi global saat ini ada tiga krisis yang dihadapi dunia. Krisis pangan, krisis energi, dan krisis air. Tiga ini harus mendapatkan solusi secepatnya,” ujarnya.
Amran menyatakan kondisi pangan Indonesia saat ini aman dengan cadangan yang disebutnya terus meningkat. Ia menyebut stok pangan nasional berada pada level tertinggi, yakni 4,9 juta ton dan diproyeksikan mencapai 5 juta ton pada Kamis berikutnya, dibandingkan angka maksimal sebelumnya 2,6 juta ton.
“Pangan alhamdulillah di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo, hari ini stok kita tertinggi sepanjang Republik ini merdeka, 4,9 juta ton dan insyaallah hari Kamis nanti sudah 5 juta ton. Dulu maksimal 2,6 juta ton. Pangan Alhamdulillah aman,” kata Amran.
Di sektor energi, ia menyebut transformasi menuju kemandirian dilakukan melalui percepatan pemanfaatan biofuel berbasis komoditas dalam negeri seperti kelapa sawit. Amran menyampaikan rencana penghentian impor solar mulai 1 Juli dan pengalihan ke biofuel dari CPO serta pengembangan bioetanol.
“Insya Allah 1 Juli kita stop impor solar dan dialihkan ke biofuel dari CPO. Dari produksi anak bangsa, produksi bangsa sendiri. Berarti soal pangan dan energi insyaallah aman,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Amran mengajak mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam pembangunan melalui kolaborasi dan kerja nyata. “Seluruh lulusan, ayo kita kolaborasi. Ayo kita kerja untuk Merah Putih. Ayo kita kerja keras. Tidak ada yang tidak bisa,” katanya.
Sementara itu, Rektor ITS Bambang Pramujati menegaskan kampus mendorong agar riset mahasiswa menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan industri. Ia menekankan penelitian tidak cukup berhenti pada publikasi ilmiah.
“Kami mendorong bahwa penelitian-penelitian tidak boleh berhenti di paper, tidak boleh berhenti di perpustakaan. Harus ada produk-produk inovasi yang dihasilkan agar bisa dimanfaatkan,” ujar Bambang.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan pemerintah, termasuk Kementerian Pertanian, terus diperkuat agar inovasi yang dihasilkan sesuai kebutuhan di lapangan dan memberi manfaat nyata bagi sektor pertanian nasional.