Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Hafid menegaskan pentingnya literasi digital, etika teknologi, serta kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan ruang digital yang aman bagi generasi muda. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Sidang Terbuka Senat Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026 di Telkom University, Sabtu (25/4).
Dalam sambutannya, Meutya menyoroti implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) sebagai fondasi membangun ekosistem digital yang sehat. Ia menyebut para lulusan tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga memikul tanggung jawab moral dalam menghadapi perkembangan dunia digital di Indonesia.
Meutya juga menekankan bahwa tantangan di ruang digital saat ini tidak semata terkait percepatan teknologi, melainkan turut dipengaruhi meningkatnya misinformasi yang berdampak luas secara global. Mengacu pada laporan World Economic Forum 2025, ia menyampaikan bahwa misinformasi termasuk salah satu risiko global terbesar yang perlu dihadapi bersama.
Ia mendorong generasi muda untuk mengambil peran aktif dalam memperkuat literasi digital. Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan keterlibatan masyarakat, khususnya anak muda, untuk menjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi.
Kehadiran Menkomdigi dalam acara tersebut didampingi Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Dian Siswarini beserta jajaran pimpinan Telkom, serta disambut Rektor Telkom University Prof. Dr. Suyanto.
TelkomGroup menyatakan dukungan terhadap kebijakan pemerintah melalui penguatan keamanan siber, perlindungan data pribadi, dan pengembangan layanan digital yang bertanggung jawab. Perusahaan juga menjalankan program edukasi terkait etika bermedia digital, keamanan siber, serta pemanfaatan teknologi secara positif bagi pelajar dan masyarakat.
Dian Siswarini menegaskan lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi motor perubahan di era digital. Ia menyebut para wisudawan bukan sekadar pencari kerja, melainkan agen perubahan yang dapat menciptakan solusi dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.