Azizah Juwita, mahasiswi Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), mengelola bisnis penjualan aplikasi premium yang disebutnya mampu menghasilkan keuntungan hingga jutaan rupiah setiap bulan. Ia menekuni usaha tersebut di sela aktivitas kuliah dan menyebut model bisnis digital ini cukup fleksibel untuk dijalankan.
Azizah mengatakan motivasi utamanya adalah keinginan mandiri secara finansial. “Yang paling utama ingin dapat uang dari hasil bisnis sendiri dan bisa menabung untuk beli keperluan lainnya,” ujarnya. Ia mengaku memilih berusaha agar tidak terus bergantung pada orang tua ketika membutuhkan sesuatu.
Perjalanan usahanya bermula dari tanggung jawab di organisasi kampus. Saat menjabat sebagai koordinator Usaha Dana (Usda), ia perlu mencari cara memenuhi target dana kepanitiaan. Dari situ, ia melihat peluang di kalangan mahasiswa dan memutuskan menjual aplikasi premium yang sebelumnya sudah mulai ia tekuni.
Menurutnya, sejumlah aplikasi seperti Netflix, Canva, hingga Capcut banyak dibutuhkan mahasiswa, baik untuk gaya hidup maupun mendukung penyelesaian tugas. Ia menilai permintaan tersebut menjadi peluang pasar yang bisa digarap.
Azizah menuturkan bisnisnya tidak banyak mengganggu kegiatan akademik. Ia menyebut sistem penjualan yang dijalankan tidak mengharuskannya memantau ponsel setiap saat. “Bisnis ini fleksibel banget, jadi jarang bentrok dengan jadwal kuliah,” katanya.
Meski demikian, ia juga menghadapi kendala. Azizah mengaku pernah tertipu dalam bisnis akun Netflix hingga mengalami kerugian. Ia kemudian berupaya bangkit dengan memperkuat promosi. “Bangkitnya, mental harus kuat dan jangan gampang menyerah,” ujarnya.
Untuk menarik kembali pelanggan, ia sempat menerapkan strategi promosi dengan menurunkan harga dan memberikan penawaran besar selama satu hingga dua bulan. Ia menyebut pendekatan “untung sedikit tapi banyak yang beli” sempat membuahkan hasil, termasuk ketika ia pernah menjual lima profil Netflix dalam satu hari.
Dalam mengelola pendapatan, Azizah menekankan pentingnya tidak menghabiskan hasil usaha untuk kebutuhan konsumtif. Ia menyebut sebelumnya pernah memutar keuntungan untuk modal bisnis makanan, sementara kini ia mengalokasikan sebagian pendapatan untuk investasi saham.
Di sisi layanan, ia mengaku berupaya tetap profesional, termasuk ketika menghadapi pelanggan yang tidak sabar. Ia mencontohkan situasi saat sempat dicurigai menipu karena terlambat membalas pesan. “Aku minta maaf dan jelaskan kalau prosesnya memang butuh waktu,” katanya.
Kepada mahasiswa lain yang ingin memulai usaha serupa, Azizah menekankan perlunya persiapan dan konsistensi. Ia menyarankan langkah awal berupa mencari pemasok yang tepercaya serta memahami target pasar. “Cari supplier-nya dulu, lalu tekuni dan promosikan secara konsisten,” ujarnya.