BERITA TERKINI
Lonjakan Trafik Internet Berbasis AI Diprediksi Berlipat, Operator Seluler Diminta Bersiap

Lonjakan Trafik Internet Berbasis AI Diprediksi Berlipat, Operator Seluler Diminta Bersiap

Adopsi kecerdasan buatan (AI) secara masif diperkirakan mendorong lonjakan trafik internet hingga dua kali lipat dalam lima tahun ke depan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi operator seluler di Indonesia untuk memperkuat kesiapan jaringan, seiring meningkatnya kebutuhan akses data dan tuntutan kualitas layanan.

Temuan tersebut tercermin dalam studi Ericsson ConsumerLab 2026 yang menyoroti perubahan perilaku digital masyarakat. Penggunaan AI diproyeksikan tidak lagi bergantung pada satu perangkat, melainkan terintegrasi lintas platform pada 2030, sehingga kebutuhan konektivitas yang stabil akan semakin penting.

Salah satu pendorong utama kenaikan beban data adalah meningkatnya penggunaan AI multimodal, yakni teknologi yang memungkinkan interaksi melalui berbagai format seperti teks, perintah suara, dan pemrosesan visual secara real-time. Pada 2025, porsi pengguna AI multimodal tercatat 21%, dan diperkirakan naik menjadi 41% pada 2030. Kenaikan ini berpotensi memperbesar konsumsi data karena proses AI multimodal memerlukan pertukaran informasi yang lebih kompleks.

Selain perubahan format interaksi, mobilitas pengguna juga diprediksi meningkat. Sekitar 46% aktivitas berbasis AI diperkirakan terjadi di luar rumah atau area publik pada 2030. Hal ini menunjukkan ketergantungan masyarakat tidak lagi bertumpu pada Wi-Fi rumah atau kantor, melainkan semakin mengandalkan jaringan seluler untuk mendukung penggunaan AI saat berpindah lokasi.

Perubahan tren tersebut turut menggeser cara pelanggan menilai kualitas layanan operator. Jika sebelumnya ukuran utama berkisar pada kecepatan unduh atau kelancaran streaming, kini kecepatan respons AI menjadi parameter baru. Semakin cepat sistem AI merespons perintah atau memberikan jawaban, semakin tinggi kepuasan pengguna terhadap jaringan yang mereka gunakan.

Director and Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, menekankan pentingnya latensi rendah dalam menghadapi kebutuhan baru ini. Menurutnya, jaringan 5G memegang peran kunci karena menawarkan kemampuan respons yang lebih unggul dibandingkan 4G, terutama untuk mendukung layanan yang menuntut pemrosesan cepat.