Komunitas pengemudi ojek online (ojol) menggelar tasyakuran di Posko Potongan 10 persen, Gedung Graha Pena, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas wacana penurunan potongan aplikasi menjadi delapan persen bagi pengemudi transportasi online.
Ketua Harian Federasi Serikat Pekerja Pengemudi Ojek Online Bersatu (FSPPOB) Yudy menegaskan kegiatan tersebut tidak bermuatan politis. Menurutnya, tasyakuran digelar sebagai ekspresi aspirasi pengemudi terkait besaran potongan yang dinilai terus meningkat.
“Ini konteksnya bukan politis. Saya perlu tegaskan tidak ada bersifat politis, tapi memang normatif murni aspirasi kami terkait potongan yang begitu menggila. Hari demi hari makin besar, bahkan sampai 40 sampai 50 persen,” kata Yudy kepada wartawan di lokasi.
Yudy mengatakan komunitas ojol telah mempelajari draf aturan mengenai potongan delapan persen. Ia menilai isi draf tersebut sudah sesuai harapan pengemudi karena potongan disebut dihitung dari total biaya yang dibayarkan pengguna aplikasi.
“Nah, terkait dengan potongan 8% ini, kami sudah pelajari draf, itu sudah sesuai harapan kami. Karena disitu tertulis bahwa potongan dihitung dari total biaya yang dibayarkan oleh pengguna aplikasi,” ujarnya.
Ia juga menilai ketentuan itu penting karena tidak mencantumkan tambahan biaya lain, seperti biaya platform maupun biaya perjalanan aman. “Disitu belum tertulis atau tidak tertulis biaya platfromnya. Itu sudah sesuai harapan kami,” kata Yudy.
Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Adian Napitupulu menilai rencana penurunan potongan menjadi delapan persen disambut positif oleh para pengemudi ojol. Menurutnya, pernyataan Presiden Prabowo mengenai besaran potongan tersebut mengejutkan sekaligus menggembirakan bagi para pengemudi.
“Kita kaget ketika kemarin Pak Prabowo mengatakan tidak 10 persen, tapi 8 persen. Dalam konteks persentase tersebut, seluruh driver ojol saya lihat senang. Yang dia perjuangkan, satu pertempuran sudah dimenangkan,” kata Adian.
Meski demikian, Adian menekankan perjuangan pengemudi ojol tidak berhenti pada isu potongan aplikasi. Ia turut menyoroti skema paket pengiriman murah atau paket “goceng”, di mana pengemudi disebut menerima Rp5.000 untuk pengiriman pertama dan Rp2.500 untuk pengiriman berikutnya.
“Perjuangan ojol tidak selesai di 8 persen, tapi masih ada poin-poin lain. Paket-paket ‘goceng’ itu juga tidak manusiawi dan harus dihapuskan,” tandasnya.