BERITA TERKINI
Kecepatan Internet Asia Tenggara Februari 2026: Indonesia Peringkat 7 untuk Mobile, Terbawah untuk Fixed Broadband

Kecepatan Internet Asia Tenggara Februari 2026: Indonesia Peringkat 7 untuk Mobile, Terbawah untuk Fixed Broadband

Kebutuhan internet berkecepatan tinggi dan stabil kian penting seiring meningkatnya integrasi aktivitas masyarakat ke ranah digital. Kualitas internet suatu negara umumnya dipengaruhi kesiapan infrastruktur, baik untuk jaringan seluler maupun layanan internet tetap.

Pada Februari 2026, Ookla merilis data performa jaringan melalui laporan Speedtest Global Index yang disusun dari miliaran sampel uji kecepatan harian pengguna aplikasi dan situs Speedtest di berbagai negara. Indikator pengukuran mencakup aspek kualitas layanan (Quality of Service/QoS) seperti kecepatan unduh, unggah, dan latensi, serta kualitas pengalaman pengguna (Quality of Experience/QoE).

Secara umum, pengukuran dibagi ke dalam dua kategori: internet mobile dan fixed broadband. Internet mobile merujuk pada jaringan seluler (4G/5G) yang digunakan secara fleksibel di berbagai lokasi, sementara fixed broadband adalah layanan internet tetap melalui kabel atau fiber optik yang lazim dipakai sebagai Wi-Fi di rumah maupun kantor dan cenderung lebih konsisten.

Di kawasan Asia Tenggara untuk kategori internet mobile, Indonesia berada di peringkat ketujuh dengan median kecepatan unduh 59,18 Mbps. Brunei Darussalam menempati posisi pertama dengan 247,01 Mbps, yang juga menempatkannya pada peringkat kedelapan secara global. Singapura menyusul di posisi kedua dengan 200,37 Mbps.

Vietnam dan Kamboja menempati peringkat berikutnya dengan median kecepatan unduh masing-masing 188,15 Mbps dan 158,69 Mbps. Malaysia berada di posisi kelima dengan 149,36 Mbps, diikuti Thailand dengan 136,15 Mbps. Sementara itu, Filipina dan Laos tercatat memiliki median kecepatan unduh lebih rendah dibanding Indonesia, masing-masing 56,31 Mbps dan 45,35 Mbps.

Secara global, median kecepatan unduh internet mobile tercatat 107,26 Mbps. Uni Emirat Arab berada di puncak dengan 681,18 Mbps, disusul Qatar (583,12 Mbps), Kuwait (380,15 Mbps), Bahrain (315,38 Mbps), dan Brasil (262,35 Mbps).

Berbeda dengan kategori mobile, Indonesia tercatat menempati posisi terbawah di ASEAN untuk fixed broadband pada Februari 2026, dengan median kecepatan unduh 45,4 Mbps. Singapura berada di peringkat teratas dengan 420,92 Mbps. Vietnam menempati posisi kedua dengan 288,76 Mbps, disusul Thailand 273,78 Mbps.

Malaysia dan Filipina berada di posisi berikutnya dengan median kecepatan unduh masing-masing 166,23 Mbps dan 106,5 Mbps. Brunei Darussalam berada di peringkat keenam dengan 86,46 Mbps, diikuti Laos 54,78 Mbps dan Kamboja 51,86 Mbps.

Di sisi lain, data tarif median per Mbps bandwidth internet per bulan yang dirilis We Are Social dan Meltwater pada Februari 2025 menunjukkan Indonesia menjadi negara dengan tarif internet termahal di Asia Tenggara. Nilainya tercatat US$0,41 per Mbps, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai yang termahal ke-12 secara global.

Tarif median negara Asia Tenggara lainnya lebih rendah, dengan Filipina di posisi berikutnya sebesar US$0,14 per Mbps, diikuti Malaysia (US$0,09 per Mbps), Vietnam (US$0,04 per Mbps), Singapura (US$0,03 per Mbps), dan Thailand (US$0,02 per Mbps).

Menanggapi tantangan ekosistem internet, Ketua Bidang Sistem Informasi, Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Anggota Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), Danang Wijayanto, menyampaikan tiga fokus utama penguatan ekosistem internet Indonesia pada 2026. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara “Temu Nasional Pegiat Literasi Digital” di Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025).

Ia mengatakan APJII—dengan lebih dari 1.400 anggota—mendorong pemerataan akses internet yang setara. Fokus tersebut berangkat dari fenomena ketimpangan antara harga layanan internet dan kualitasnya. Selain itu, APJII menekankan pentingnya kerja sama antarpelaku ekosistem agar layanan semakin stabil, serta edukasi kepada masyarakat terkait keamanan dalam menggunakan internet.

Danang berharap penguatan tersebut dapat membuat ekosistem internet Indonesia lebih tangguh, merata, dan berkelanjutan untuk mendukung masa depan digital.