Sosialisasi mengenai pentingnya deteksi dini preeklamsia digelar di Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Selasa (21/4/2026). Deteksi dini gangguan pada kehamilan ini dinilai penting karena preeklamsia dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah, yang keduanya disebut dapat menjadi faktor risiko stunting pada anak.
Dalam kegiatan tersebut, Bakti BCA menyalurkan bantuan satu paket alat deteksi dini preeklamsia kepada Puskesmas Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Perangkat yang diberikan meliputi USG, patient monitor, tablet Android, serta aplikasi Cexup yang digunakan tenaga kesehatan untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi deteksi risiko.
Selain penyaluran perangkat, Bakti BCA juga mengajak 31 ibu hamil dari wilayah operasional Klinik Binaan Bakti BCA, yakni Klinik Bakti Medika Mangga Dua. Para peserta mendapat kesempatan mengikuti sosialisasi sekaligus menjalani pengecekan deteksi dini preeklamsia agar risiko pada kehamilan dapat diidentifikasi lebih awal.
Bakti BCA bersama Klinik Bakti Medika turut menghadirkan layanan Mini Medical Check-Up (MCU) gratis bagi peserta, sebagai bagian dari upaya mendorong deteksi dini penyakit secara lebih luas.
Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan membantu mendeteksi lebih awal risiko yang dimiliki ibu hamil, termasuk preeklamsia. Ia mengaitkan langkah tersebut dengan upaya pemerintah untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih tercatat tinggi dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara.
Widodo menekankan perlunya kolaborasi aktif berbagai pihak untuk mencapai target penurunan AKI. Menurutnya, BCA akan terus mendukung keberlanjutan hidup ibu dan anak dalam jangka panjang.
“Hari ini kami memberikan bantuan seperangkat alat deteksi dini preeklamsia, sebelumnya kami juga aktif dalam mendukung pencegahan stunting dalam beberapa tahun terakhir. Mudah-mudahan dengan apa yang kita lakukan bisa menurunkan Angka Kematian Ibu di Indonesia,” ujar Widodo.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menambahkan, kegiatan bersama Kementerian Kesehatan ini merupakan kontribusi pihaknya dalam mendukung pencegahan stunting. Ia menyebut BCA sebelumnya telah menjalankan program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia) serta program “Ayo Cegah Stunting”.
Hera juga menjelaskan, pihaknya bersama organisasi filantropi dan perusahaan swasta lain turut mendukung Kementerian Kependudukan & Pembangunan Keluarga melalui program PASTI untuk mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia. Program tersebut berlangsung selama empat tahun, dari 2023 hingga 2026, dengan total donasi senilai US$1 juta. Melalui sejumlah program itu, sebanyak 6.070 anak berusia di bawah dua tahun (baduta) disebut telah menerima intervensi gizi pada periode 2023–2025.
“Pencegahan stunting perlu dimulai dari hulu, mulai dari remaja dan kesiapan keluarga, kesehatan ibu selama kehamilan, hingga tumbuh kembang anak. Kami berharap inisiatif dari BCA dapat memperkuat upaya pencegahan sejak awal kehamilan sekaligus meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan dalam memberikan respons yang lebih cepat dan tepat,” kata Hera.