BERITA TERKINI
iCoESDev 2026 Digelar di Medan, Dorong Solusi Ilmiah untuk Krisis Iklim Pesisir

iCoESDev 2026 Digelar di Medan, Dorong Solusi Ilmiah untuk Krisis Iklim Pesisir

PALANGKA RAYA – 1st International Conference on Environmental and Sustainability Development (iCoESDev) 2026 digelar di Hotel Aryaduta Medan, Sumatera Utara, sebagai respons terhadap dampak perubahan iklim yang kian terasa. Konferensi ini menyoroti kebutuhan aksi nyata berbasis ilmu pengetahuan, terutama untuk menghadapi krisis iklim di kawasan pesisir Indonesia.

iCoESDev 2026 menjadi wadah bagi peneliti, akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk berbagi pengetahuan serta merumuskan solusi ilmiah dalam pengelolaan ekosistem pesisir. Kegiatan ini diselenggarakan Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (Yakopi) bekerja sama dengan sejumlah lembaga dan perguruan tinggi, di antaranya Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Medan, Hiroshima University, dan University of Malaya.

Konferensi dibuka oleh M. Taufik Rahmadi, M.Sc., Chairman of the Committee sekaligus dosen Universitas Negeri Medan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa forum ini ditujukan untuk mendorong langkah konkret menghadapi krisis iklim yang dampaknya semakin luas, khususnya di Indonesia. “Pesisir adalah wilayah vital bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Melalui konferensi ini, kita berharap dapat menemukan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk mengelola ekosistem pesisir yang semakin terancam oleh perubahan iklim,” ujarnya dalam rilis yang diterima pada Senin, 20 April 2026.

Direktur Jenderal Perencanaan Tata Ruang Laut Kementerian Perikanan dan Kelautan Indonesia, Kartika Listriana, S.T., MPPM, turut membuka acara dengan menekankan pentingnya perencanaan ruang laut untuk menjaga keberlanjutan pesisir. Menurutnya, pengelolaan pesisir yang baik bukan hanya kunci keberlanjutan lingkungan, tetapi juga berdampak pada perekonomian masyarakat pesisir.

Sejumlah tokoh hadir memberikan keynote speech terkait pengelolaan ekosistem pesisir. Prof. Dr. Zulkifli Nasution, M.Sc., Ph.D dari USU dan Yakopi menekankan pentingnya pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan sebagai strategi menghadapi perubahan iklim. Dr. Meilinda Suriani Harefa, S.Pd., M.Si dari Universitas Negeri Medan dan Yakopi membahas inovasi pendidikan dan riset untuk mendukung pengelolaan pesisir berkelanjutan.

Dari perspektif internasional, Prof. Kazuhiko Koike dari Hiroshima University, Jepang, memaparkan pengalaman pengelolaan pesisir di berbagai negara. Sementara Prof. Rosmadi Bin Fauzi dari Universiti Malaya, Malaysia, menyoroti peran ilmu geospasial dalam pengelolaan pesisir dan mangrove agar lebih efisien.

Konferensi juga memuat pembahasan terkait mitigasi iklim dan pendekatan bisnis. Amy Merrill, Chief Executive Officer Integrity Council for The Voluntary Carbon Market (ICVCM), menyampaikan wawasan mengenai pasar karbon sukarela dan perannya dalam mitigasi perubahan iklim. Anna Stablum, Business Development Director of ClimeCo, berbagi pandangan terkait pengembangan strategi bisnis berbasis solusi ekosistem untuk menghadapi perubahan iklim.

Gubernur Sumatera Utara dalam sambutannya menyatakan komitmen mendukung kebijakan yang berfokus pada keberlanjutan ekosistem pesisir di wilayah Sumatera Utara. Ia menekankan pengelolaan pesisir perlu diarahkan tidak hanya untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga memberi dampak positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Prof. Rahmawaty, Guru Besar Fakultas Kehutanan USU sekaligus Kaprodi S2/S3 Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSL) USU, menilai masa depan manusia sangat bergantung pada kondisi ekosistem pesisir. “Kawasan pesisir tidak hanya menjadi sumber pangan dan ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi kita dari dampak buruk perubahan iklim,” ujarnya.

Selain sesi tokoh dan pemangku kebijakan, iCoESDev 2026 juga menjadi panggung bagi mahasiswa doktoral USU untuk mempresentasikan riset. Suranto memaparkan penelitian berjudul Economic Valuation of Urban Trees and Mangroves Carbon Sequestration: Supporting Eco Forest City Development in Medan Belawan, Indonesia, yang menyoroti potensi pengelolaan pohon perkotaan dan mangrove dalam mendukung konsep Eco Forest City di Medan Belawan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Ismayadi mempresentasikan riset Building a Conceptual Model of Community-Based Psychosocial Recovery from Prior Disaster Studies for Aceh Tamiang, Indonesia yang menekankan pentingnya pendekatan berbasis masyarakat dalam pemulihan pascabencana, termasuk pemanfaatan potensi lokal untuk pemulihan sosial-ekonomi.

Eling Tuhono menyampaikan studi Baseline–Shock–Recovery as a Novelty Framework for Understanding Mangrove Resilience to Tectonic Disturbance: A 22-Year Analysis of Mangrove Extent Dynamics on Nias Island, Indonesia, dengan pengembangan kerangka baru untuk memahami ketahanan mangrove terhadap gangguan tektonik. Sementara Darnianti memaparkan riset Hydrological Regime and Q95 in Upper Wampu Tropical Watershed yang berfokus pada pola hidrologi di wilayah hulu DAS Wampu, Sumatera Utara, sebagai kontribusi dalam pengelolaan sumber daya air tropis.

Melalui rangkaian sesi tersebut, konferensi menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. Para peserta diharapkan membawa hasil diskusi ke langkah yang lebih konkret dan berkelanjutan untuk menjaga ekosistem pesisir Indonesia.