BERITA TERKINI
ICANN Luncurkan Program Kurikulum Universal Acceptance untuk Dukung Internet Multibahasa

ICANN Luncurkan Program Kurikulum Universal Acceptance untuk Dukung Internet Multibahasa

Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) meluncurkan program Kurikulum Universal Acceptance (UA) yang ditujukan untuk mendukung kebutuhan teknis Internet multibahasa. Universal Acceptance merupakan konsep yang memastikan semua nama domain yang valid serta alamat email terkait dapat digunakan oleh berbagai aplikasi, perangkat, dan sistem berbasis Internet, terlepas dari perbedaan aksara, bahasa, maupun panjang karakter.

Melalui program Kurikulum UA, institusi akademik dapat mengintegrasikan materi seperti Internationalized Domain Names (IDNs), Email Address Internationalization (EAI), dan UA ke dalam program studi yang relevan tanpa biaya. ICANN menyatakan akan bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk memberikan pelatihan kepada dosen serta membantu integrasi topik-topik tersebut ke dalam mata kuliah baru atau yang sudah ada.

ICANN menyebut tiga institusi pendidikan telah menandatangani perjanjian dan tengah mengintegrasikan Kurikulum UA ke dalam penawaran mata kuliah mereka, yakni American University of Bahrain (AUBH), Universidad Modelo di Meksiko, dan Sri Ramakrishna Institute of Technology (SRIT) di India.

Dekan College of Engineering and Computing AUBH, Dr. Marwan Hameed, menyatakan kerja sama ini menjadi tonggak penting untuk memperkuat posisi universitasnya di bidang komputasi dan teknologi digital, sekaligus meningkatkan kesiapan lulusan menghadapi perubahan cepat lanskap Internet dan teknologi. Dari Meksiko, Koordinator Akademik Silvio Zavala Research Center di Universidad Modelo, Dr. Jorge Carlos Canto Esquivel, mengatakan pihaknya sejalan dengan gagasan integrasi yang lebih luas, dan menyebut visinya selaras dengan tujuan Internet global yang dapat saling beroperasi untuk semua. Sementara itu, Principal SRIT, Dr. J. David Rathnaraj, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah awal yang mendukung komitmen institusinya terhadap masa depan tata kelola Internet.

Selain ketiga kampus tersebut, ICANN juga menyatakan sedang bekerja sama dengan Association of African Universities untuk mengintegrasikan kurikulum serupa ke universitas-universitas di Afrika.

Menurut ICANN, Kurikulum UA terdiri dari 12 modul yang membahas UA dan topik terkait, termasuk internasionalisasi aplikasi perangkat lunak, IDNs, dan EAI. Materi ini dirancang untuk membantu pengembangan ekosistem Internet yang mampu mengakomodasi beragam bahasa dan aksara dalam sistem nama domain.

ICANN menekankan bahwa UA penting agar nama domain—termasuk domain tingkat atas yang lebih baru dan lebih panjang, serta domain dalam berbagai bahasa dan aksara seperti Arab, Mandarin, Hindi, Tamil, dan Thai—dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam Domain Name System (DNS). Keberfungsian ini dinilai memperluas pilihan identitas digital pengguna dan memberi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan serta menyebarkan tradisi budaya secara daring.

ICANN juga menyebut organisasi sektor publik dan swasta di berbagai negara tengah menyiapkan sistem mereka agar kompatibel dengan UA, sehingga dapat mendukung nama domain dan alamat email dalam bahasa serta aksara lokal. Pihak yang telah “UA-ready” disebut berada pada posisi yang lebih baik untuk menjangkau lebih banyak pengguna Internet saat ini maupun gelombang pengguna baru.

Dari sisi pendidikan dan karier, ICANN menilai pemahaman tentang internasionalisasi, IDNs, EAI, dan UA dapat memberi nilai tambah bagi mahasiswa yang mempertimbangkan karier sebagai pengembang perangkat lunak atau bidang teknis terkait, terutama di organisasi yang ingin mengikuti perkembangan teknologi multibahasa dan DNS yang terus berubah.