Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, memprediksi bahwa dalam satu dekade ke depan agent akal imitasi (AI agent) akan menjadi entitas yang lebih dominan dibanding manusia di internet. Ia menilai perubahan tersebut sudah mulai memaksa perusahaan teknologi besar seperti Google, Facebook, dan Amazon untuk beradaptasi.
Hoskinson menyebut pada 2035 mayoritas aktivitas internet akan dijalankan oleh AI agent, mencakup pencarian informasi hingga transaksi perdagangan digital. “Pada 2035, mayoritas pencarian, perdagangan, dan aktivitas di internet akan dilakukan oleh AI agent, bukan manusia,” ujarnya.
Menurut Hoskinson, pergeseran ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi model bisnis raksasa teknologi saat ini. Ia mengatakan, “Amazon, Google, dan Facebook takut terhadap revolusi agentic ini.” Ia menilai perusahaan-perusahaan tersebut kini menggelontorkan investasi besar karena model bisnis mereka berisiko terganggu secara fundamental.
Salah satu alasan yang ia soroti adalah karakter AI agent yang berbeda dari pengguna manusia. Hoskinson menyebut AI agent tidak mengklik iklan dan tidak memiliki preferensi merek, sehingga dapat mengancam model bisnis berbasis iklan digital yang selama ini menopang Google, Amazon, dan Facebook. “AI agent tidak peduli iklan atau loyalitas merek,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Hoskinson juga menyinggung ketertarikan Google terhadap protokol x402, yang ia gambarkan sebagai sistem berbasis stablecoin dan kripto untuk memungkinkan AI agent melakukan pembayaran otomatis secara langsung melalui internet. “Kenapa menurut Anda Google tertarik pada x402?” kata Hoskinson kepada audiensnya.
Ia menilai perkembangan AI akan ikut mengubah cara penggunaan kripto di masa depan. Menurutnya, kecerdasan buatan akan semakin banyak menangani pekerjaan seperti due diligence, eksekusi transaksi, hingga interaksi dengan layanan decentralized finance (DeFi).
Di sisi lain, Hoskinson mengingatkan pengguna kripto agar tidak terlalu bergantung pada pihak ketiga dalam menyimpan aset digital. Ia menekankan pentingnya kontrol pribadi atas data, identitas, dan uang. “Anda harus memiliki data Anda sendiri. Anda harus memiliki identitas Anda sendiri. Anda harus memiliki uang Anda sendiri,” tegasnya.
Hoskinson menilai banyak pengguna justru menyerahkan kontrol aset kepada custodial wallet, jaringan berizin, dan pihak ketiga lain yang sewaktu-waktu dapat membatasi akses akun. Ia juga mengkritik fragmentasi ekosistem blockchain yang disebutnya memperlambat perkembangan industri kripto. “Sudah ada 11 juta token yang diterbitkan selama bertahun-tahun. Kita sudah cukup memilikinya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa yang dibutuhkan adalah kerja sama untuk mencapai misi bersama.
Menurut Hoskinson, hambatan utama adopsi kripto secara massal masih terletak pada pengalaman pengguna (user experience). Ia menggambarkan proses onboarding kripto saat ini rumit dan rawan kesalahan. “Itulah pengalaman pengguna di tahun 2026. Apakah itu produk yang ingin Anda gunakan?” katanya.
Ia menyebut teknologi seperti account abstraction dan chain abstraction dapat membantu menyederhanakan interaksi pengguna dengan sistem kripto tanpa mengorbankan kontrol atas aset dan identitas digital.
Hoskinson juga menyoroti perubahan sikap institusi keuangan tradisional terhadap kripto. Ia mencontohkan bank besar seperti JPMorgan yang dinilainya kini mulai mengembangkan produk blockchain setelah sebelumnya membatasi aktivitas terkait kripto. “Dulu JPMorgan menutup rekening orang-orang yang terkait kripto, sekarang mereka punya produk blockchain sendiri,” ujarnya.