JAKARTA — Program internet murah melalui skema Internet Rakyat dan pengembangan sektor perumahan dinilai dapat menjadi dua pilar penting untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Board of Advisors Prasasti sekaligus Utusan Khusus Presiden RI untuk Iklim dan Energi, Hashim S. Djojohadikusumo, mengatakan akses internet yang terjangkau dan merata berpeluang menjadi pengubah permainan bagi perekonomian nasional, terutama untuk memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta meningkatkan produktivitas masyarakat.
Dalam acara Prasasti Luncheon Talk di Jakarta, Hashim menyoroti biaya internet di Indonesia yang dinilainya masih tinggi. “Biaya internet kita paling mahal di Asia Tenggara,” ujarnya, seperti dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).
Menurut Hashim, tingginya biaya internet menjadi hambatan dalam mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital. Padahal, ia menilai internet memiliki potensi besar untuk memperluas aktivitas ekonomi. “Internet ini akan membawa terobosan dan potensinya sangat besar,” kata Hashim.
Ia juga merujuk sejumlah studi internasional yang menunjukkan keterkaitan antara penetrasi internet dan pertumbuhan ekonomi. Disebutkan, setiap kenaikan penetrasi internet sebesar 10 persen dapat mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sekitar 0,7 persen hingga 1,3 persen.
Meski demikian, Hashim menilai pemanfaatan internet di Indonesia belum optimal. Dari potensi pengguna yang disebut mencapai sekitar 80 persen populasi, penggunaan internet secara produktif baru berada di kisaran 15 persen. “Yang benar-benar menggunakan internet secara produktif masih sekitar 15 persen, padahal potensinya jauh lebih besar,” ujarnya.
Program Internet Rakyat disebut telah memasuki tahap implementasi dengan melibatkan dua operator, yakni PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan PT Eka Mas Republik (MyRepublic). Program ini ditujukan untuk memperluas akses internet ke seluruh Indonesia dengan biaya langganan mulai dari Rp 100.000 per bulan.
Selain digitalisasi, Hashim juga menekankan pentingnya pengembangan sektor perumahan sebagai penggerak ekonomi, merujuk pengalaman sejumlah negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. “Perumahan menjadi salah satu driver pertumbuhan ekonomi di banyak negara,” sebutnya.
Di Indonesia, pembangunan perumahan dalam skala besar dinilai dapat memberi efek berganda terhadap berbagai sektor, mulai dari konstruksi hingga konsumsi rumah tangga. Hashim memperkirakan pembangunan 1 juta hingga 3 juta unit rumah per tahun berpotensi menambah pertumbuhan ekonomi sekitar 1 persen hingga 1,5 persen. “Kalau kita bangun jutaan unit rumah setiap tahun, dampaknya ke pertumbuhan ekonomi bisa signifikan,” ujarnya.
Hashim menambahkan, penguatan sektor digital melalui internet murah dan percepatan pembangunan perumahan dapat saling melengkapi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih luas dan inklusif.