Banyuwangi – Forum Banyuwangi Sehat (FBS) mengintensifkan kegiatan turun ke lapangan untuk pembinaan Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) dengan melibatkan Kelompok Kerja (Pokja) Desa Sehat. Pada Kamis (7/5/26), FBS menghadiri pertemuan FKKS di Aula Kecamatan Srono. Pada waktu yang sama, perangkat organisasi daerah (OPD) dikumpulkan di Aula Bappeda untuk mengisi instrumen verifikasi Kabupaten Sehat melalui Aplikasi SI PANTAS, setelah pembina dan unsur sekretaris FBS mengikuti pembekalan workshop di Bappeda Provinsi Jawa Timur.
Rangkaian pembinaan sebelumnya diawali di FKKS Songgon yang dipimpin Plt Camat H. Khoiri dan Ketua FKKS Saris. Dalam kegiatan tersebut, FBS menghadirkan Fathurahman, S.P., M.Pd sebagai narasumber. Ia membahas potensi lokasi yang terkait hasil pertanian dan pariwisata, serta dukungan terhadap program Banyuwangi Hijau melalui TPS Balak.
Kegiatan dilanjutkan di FKKS Muncar pada Rabu (7/5/26) yang dibuka Camat Drs. H. Khalid Askandar. Ia berharap penguatan kelembagaan FKKS menjadi ruang musyawarah untuk mencari solusi persoalan Muncar yang dinilai kompleks, termasuk tantangan kependudukan yang terus meningkat.
Dalam kesempatan itu, Khalid juga menyinggung perlunya sinergi lintas sektor, seperti KUA, puskesmas, guru bimbingan konseling, serta pembina UKS untuk memantau anak-anak yang mengalami masalah psikososial maupun kesehatan. Ia menyebut kondisi seperti depresi, menyendiri, masalah keluarga, hingga paparan penyakit, kebiasaan merokok, dan konsumsi narkoba perlu segera direspons dengan langkah solusi agar tidak berujung pada tindakan ekstrem.
Pertemuan di Muncar juga menghadirkan narasumber dari Balai Pelatihan Vokasi Produktivitas (BPVP) Kementerian Ketenagakerjaan, Eko Wahyu Prasetyo, selain pemateri dari FBS yaitu Aguk Wahyu Nuryadi dan Dewi Anggorowati. Eko menyampaikan BPVP membuka akses pelatihan gratis dan menjangkau wilayah Karisidenan Besuki, Probolinggo hingga Bali. Ia juga menyebut pernah ada dukungan pendanaan dari Austria untuk pelatihan pengelasan selama enam bulan, dengan alumni yang banyak direkrut PT INKA dan BSI.
Kepala Desa Sumbersewu, Wastono, menyatakan kesiapan memanfaatkan pelatihan untuk mengolah panen semangka dan melon yang melimpah di wilayahnya menjadi produk seperti sirup maupun keripik. Disebutkan pula rencana desa lain menggandeng petani anggur dan buah naga agar petani tidak terlalu terdampak ketika harga turun saat panen.
Eko menambahkan, pihaknya pernah melakukan pelatihan dua tahun lalu melalui PKBM dan Paguyuban UMKM Muncar untuk produk camilan dan kerupuk olahan hasil laut. Ia menyatakan siap membantu termasuk dalam penyusunan proposal.
Sementara itu, Kepala Desa Tambakrejo, Nanang, menilai koordinasi muspika Muncar berjalan baik, namun ia menyampaikan keluhan bahwa aturan dari jajaran pemerintah daerah kerap menghambat terobosan desa. Nanang juga mengusulkan pembangunan panti ODGJ di Muncar dengan lahan sekitar 1–2 hektare.
Di Srono, narasumber FBS Desika Ulfarisa menyampaikan materi tentang penguatan kelembagaan dan sinergi Rumah Desa Sehat dengan PKK, Pokja Desa Sehat, hingga kader posyandu. Sekretaris FKKS Srono M. Harun menyatakan kesiapan menindaklanjuti kolaborasi, termasuk dengan perusahaan melalui program CSR serta DMI maupun takmir untuk pembinaan masyarakat.
Pendamping Desa Nanang Qosim dan Tarkhim Fikri, di hadapan KPM Rumah Desa Sehat, menyampaikan agar usulan FKKS dapat diakomodasi melalui forum musyawarah bersama dan kerja lapangan bersama pegiat sosial kesehatan, termasuk pembahasan penganggaran yang proporsional di tengah kondisi ADD/DD yang terdampak efisiensi dan program dari pusat.
Kasie PMK Srono Imam Bashori, mewakili Plt Camat Syarifudin yang mengikuti agenda Bunga Desa Bupati di Blimbingsari, menyampaikan bahwa gerakan kesehatan dengan sembilan tatanan didukung unsur Kesra desa, kader, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Di sisi lain, Wakil Sekretaris FBS Pipit Haryono, S.Kep., M.Pd menyebut OPD Dinas Pendidikan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah mencapai nilai 90 dalam proses penilaian, sementara OPD lain masih berada di kisaran 70 hingga 80-an. Ia berharap capaian tersebut dapat ditingkatkan agar Banyuwangi kembali meraih predikat tertinggi.