BERITA TERKINI
Etika Guru SD dalam Memanfaatkan Teknologi untuk Pembelajaran

Etika Guru SD dalam Memanfaatkan Teknologi untuk Pembelajaran

Perkembangan teknologi membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk di jenjang Sekolah Dasar (SD). Di tengah kemajuan tersebut, guru memikul tanggung jawab moral untuk menggunakan teknologi secara etis, bijak, dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Tantangannya bukan hanya mengikuti perkembangan zaman, melainkan juga menjaga nilai-nilai pendidikan agar tetap menjadi fondasi utama dalam proses belajar.

Menurut Aruman, M.Pd., penggunaan teknologi di SD dapat menjadi terobosan yang bermanfaat, terutama bagi siswa kelas atas. Ia menilai pemanfaatan IT membantu pembelajaran anak-anak, khususnya kelas 4, 5, dan 6, serta dapat mendukung kreativitas dan kemandirian belajar. Meski demikian, guru tetap perlu memastikan teknologi tidak menggantikan pembelajaran langsung dan interaksi yang penting bagi anak-anak pada usia tersebut.

Aspek etika lainnya berkaitan dengan ketersediaan sarana dan prasarana. Realitas di lapangan menunjukkan tidak semua sekolah memiliki perlengkapan digital yang memadai. Aruman menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyuplai sarana prasarana yang dibutuhkan. Dalam kondisi yang belum merata, guru dituntut cermat merancang pembelajaran berbasis teknologi agar tetap inklusif dan tidak membebani siswa maupun sekolah.

Di sisi implementasi, Khusnan, S.Pd.I., menjelaskan bahwa perangkat dan aplikasi yang digunakan di SD mulai beragam, seperti chromebook, Google Form, Quizizz, dan e-book. Variasi ini mencerminkan upaya guru beradaptasi dengan alat digital yang tersedia. Namun, ia menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi perlu tetap selaras dengan tujuan pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren.

Pada akhirnya, etika guru dalam memanfaatkan teknologi di SD menuntut kesadaran, tanggung jawab, dan empati terhadap kondisi peserta didik serta lingkungan sekolah. Teknologi dapat menjadi alat bantu yang penting, tetapi nilai-nilai pendidikan dan proses pembelajaran yang bermakna tetap harus menjadi prioritas.