MALANG — Internet dinilai dapat berperan layaknya “sekolah tanpa kurikulum formal” yang membentuk cara pandang siswa melalui kurikulum tersembunyi (hidden curriculum). Melalui algoritma, paparan berulang, dan validasi sosial, platform digital dapat membuat siswa menyerap nilai-nilai tertentu—mulai dari stereotip gender, standar kecantikan, hingga normalisasi perilaku toksik—tanpa disertai refleksi kritis.
Karena itu, lembaga pendidikan diminta tidak bersikap pasif. Pembiaran, menurut pandangan tersebut, dapat dipahami sebagai persetujuan implisit. Intervensi literasi digital pun dinilai menjadi kebutuhan agar siswa mampu memahami dan menyaring pengaruh yang mereka terima di ruang daring.
Penegasan itu disampaikan Lian Agustina Setiyaningsih, S.Sos., M.Med.Kom., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Ia mempresentasikan makalah berjudul “Digital Safety as Pedagogical Responsibility; Uncovering the Hidden Curriculum of the Internet for Women” dalam kegiatan visiting lecture di University Antara Bangsa MAIWP (UniMAIWP), Kuala Lumpur, Senin (13/4/2026).
Kegiatan tersebut disebut sebagai implementasi kerja sama akademik antara FISIP Unmer Malang dan Fakultas Pendidikan UniMAIWP. Dalam kesempatan yang sama, para dosen juga memberikan pelatihan komunikasi efektif bagi guru taman kanak-kanak, termasuk tips praktis membangun komunikasi yang dekat dan bermakna dengan peserta didik.
Dalam paparannya, Lian menilai perempuan lebih rentan terhadap dampak destruktif internet dibandingkan laki-laki. Ia juga menyebut kekerasan digital terhadap perempuan terjadi secara sistemik dan bersifat struktural, yang tampak dalam bentuk pelecehan siber, penguntitan daring (online stalking), serta penyalahgunaan berbasis gambar yang dinormalisasi di ruang digital.
“Keselamatan digital merupakan tanggung jawab pedagogis yang menuntut peran aktif pendidik dalam melindungi siswa dari dampak destruktif internet,” ujarnya.
Untuk langkah praktis, ia menawarkan konsep 4R: Recognize (membantu siswa mengenali risiko seperti perundungan dan bias konten), Reflect (mendorong diskusi kritis atas pengalaman digital), Respond (mengajarkan tindakan praktis seperti melapor dan memblokir), serta Rebuild (memperkuat kembali kepercayaan diri dan identitas siswa).
Ia menekankan peran guru bukan hanya sebagai pelindung, melainkan juga fasilitator yang membekali siswa dengan kesadaran kritis dan ketahanan digital agar mampu menghadapi dunia daring secara bijak.