BERITA TERKINI
Dosen UMS Kembangkan Aspal Berbahan Nano Karbon Limbah Sawit, Raih Pendanaan Riset Internasional

Dosen UMS Kembangkan Aspal Berbahan Nano Karbon Limbah Sawit, Raih Pendanaan Riset Internasional

Dua dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (FT UMS) memperoleh pendanaan riset internasional pada April 2026 untuk mengembangkan inovasi aspal jalan raya berbahan nano karbon dari limbah kelapa sawit. Riset ini menargetkan peningkatan ketahanan jalan sekaligus efisiensi biaya perawatan.

Pendanaan tersebut diperoleh melalui proyek kolaboratif Partenariat Hubert Curien (PHC) Nusantara, kemitraan antara Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dengan Pemerintah Prancis. Pendanaan ini mendukung pengembangan campuran aspal yang memanfaatkan ekstraksi nano karbon dari tempurung sawit.

Teknologi yang dikembangkan berfokus pada kemampuan aspal melakukan pemulihan mandiri (self-healing). Mekanisme ini memungkinkan permukaan jalan menutup keretakan halus secara otomatis yang muncul akibat beban kendaraan berat, sehingga diharapkan umur layanan jalan dapat lebih panjang.

Dalam riset tersebut, limbah tempurung sawit diolah menjadi material nano karbon. Karakteristik kimiawi tempurung sawit dinilai mampu mengoptimalkan sifat viskoelastis aspal, yang berkontribusi pada peningkatan daya tahan material.

Sejumlah keunggulan yang ditargetkan dari pemanfaatan limbah kelapa sawit dalam campuran aspal ini meliputi penguatan ikatan antar material penyusun jalan, penurunan biaya perawatan infrastruktur karena durabilitas meningkat, serta penciptaan nilai tambah ekonomi bagi limbah cangkang kelapa sawit.

Pelaksanaan riset melibatkan tim dari UMS dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dengan dukungan peneliti senior serta mahasiswa pascasarjana di Indonesia. Kemitraan internasional dilakukan bersama Université Gustave Eiffel di Prancis, terutama untuk memperdalam analisis data dan pengujian performa material pada tingkat molekuler.

Saat ini, pengujian laboratorium masih berlangsung untuk memastikan interaksi kimiawi antara nano karbon sawit dan aspal berjalan sesuai target. Tahap ini ditujukan untuk memenuhi standar teknis sebelum teknologi diuji dan diimplementasikan pada skala lapangan.

Pengembangan aspal berbasis nano karbon dari limbah sawit ini disebut sebagai terobosan karena riset serupa dinilai belum banyak dilakukan di Indonesia. Meski demikian, penerapan luas di jalan raya masih memerlukan rangkaian pengujian lanjutan serta koordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas Perhubungan (Dishub) dan otoritas lainnya.

Jika berhasil, riset ini diharapkan membuka peluang hilirisasi industri kelapa sawit di luar sektor pangan melalui pemanfaatan limbah menjadi material konstruksi yang lebih tangguh dan ekonomis.