BERITA TERKINI
Dosen UM Bandung Ingatkan Etika dan Verifikasi dalam Penggunaan AI

Dosen UM Bandung Ingatkan Etika dan Verifikasi dalam Penggunaan AI

Bandung – Dosen Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Ahmad Suryan, menyoroti peran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kian melekat dalam aktivitas digital generasi muda. Ia menilai kemudahan yang ditawarkan AI perlu diimbangi dengan landasan etika agar tidak menimbulkan dampak negatif.

Menurut Ahmad, keunggulan AI terletak pada kecepatan dalam mencari informasi serta kemampuannya merangkai data. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi tersebut tetap memiliki risiko, terutama ketika digunakan tanpa sikap kritis dan rujukan yang tepat.

Ia menjelaskan bahwa AI dapat membantu meningkatkan efisiensi pekerjaan, tetapi pengguna perlu waspada terhadap potensi informasi keliru apabila sumber yang digunakan tidak akurat. Karena itu, Ahmad menekankan pentingnya niat positif dan tidak sepenuhnya bergantung pada AI dalam mengambil keputusan.

“Menggunakan AI harus dilandasi niat yang baik dan tujuan yang positif agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain,” kata Ahmad, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube UM Bandung, Selasa (31/03/2026).

Dalam konteks pencarian informasi, Ahmad mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya rujukan, terutama untuk persoalan penting seperti agama. Ia menyarankan agar hasil yang diberikan AI tetap dikonfirmasi kepada pihak yang kompeten agar tidak terjadi kesalahpahaman.

“Khusus dalam urusan agama, kita harus tetap bertanya kepada ahlinya seperti ulama atau kiai dan tidak menelan mentah-mentah hasil rangkuman AI,” ujarnya.

Ahmad juga membagikan tips teknis agar AI dapat memberikan jawaban yang lebih akurat, yakni dengan menyusun perintah atau pertanyaan secara spesifik. Ia menilai, mengarahkan AI untuk mengambil rujukan dari sumber resmi—misalnya situs Muhammadiyah untuk urusan ibadah—dapat membantu meminimalkan kesalahan informasi.

“Berikanlah perintah yang spesifik kepada AI agar informasi yang ditarik berasal dari sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Ahmad.

Menutup penjelasannya, Ahmad menekankan pentingnya tanggung jawab sebelum menyebarkan konten hasil olahan AI ke ruang publik. Ia berharap kemudahan akses informasi melalui teknologi ini dapat mendorong literasi digital masyarakat agar lebih bijak, dengan tetap mengutamakan verifikasi.

“Mari kita jadikan AI sebagai alat bantu yang bermanfaat dengan tetap mengedepankan verifikasi agar tidak menjadi sarana penyebaran informasi yang keliru,” tuturnya.