Generasi Alpha—anak-anak yang lahir sekitar 2010 hingga 2024—kerap disebut sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di era digital dan kecerdasan buatan (AI). Sejak usia dini, mereka sudah akrab dengan perangkat seperti tablet, smartphone, dan asisten virtual, yang hadir bukan sekadar sebagai alat, tetapi menjadi bagian dari keseharian.
Sejumlah temuan menunjukkan kedekatan Gen Alpha dengan teknologi dimulai sangat awal. Studi mencatat sekitar 40 persen anak Generasi Alpha telah memiliki tablet sejak usia 2 tahun. Selain itu, mayoritas anak dalam kelompok ini disebut sudah terpapar media sosial sebelum usia 8 tahun.
Dalam konteks pendidikan, AI dinilai berperan besar membentuk cara belajar yang lebih individual. Sistem pembelajaran adaptif memungkinkan materi disesuaikan dengan kecepatan dan gaya belajar tiap anak, sehingga proses belajar dapat menjadi lebih efisien sekaligus membuka ruang eksplorasi. Survei lokal juga mencatat 49 persen orang tua melaporkan anak Generasi Alpha telah menggunakan AI, dan angkanya meningkat menjadi 60 persen ketika anak memasuki usia 13–14 tahun.
Masih dari survei yang sama, penggunaan AI oleh anak dipandang membawa beberapa manfaat, di antaranya untuk mendukung pendidikan pribadi (30 persen), kreativitas (29 persen), keterampilan sosial (18 persen), serta persiapan masa depan (21 persen). Di sisi lain, orang tua disebut semakin proaktif memperkenalkan AI sebagai alat bantu belajar dan pengembangan diri.
Contoh pendekatan tersebut terlihat dari kisah profesor Jules White yang melatih anaknya sejak kelas 5 menggunakan ChatGPT. Penggunaan itu tidak hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga untuk mendorong kreativitas, berpikir kritis, serta membiasakan anak mengeksplorasi informasi secara cermat hingga merujuk ke sumber terverifikasi. Praktik ini mencerminkan pergeseran cara pandang: AI diposisikan sebagai alat yang tetap memerlukan supervisi, bukan pengganti peran manusia.
Namun, keterlibatan AI dalam kehidupan Gen Alpha juga memunculkan sejumlah tantangan psikososial dan etika. Salah satu risiko yang disorot adalah kecenderungan cognitive offloading, yakni menyerahkan banyak fungsi berpikir kepada AI, yang dikhawatirkan dapat melemahkan kemampuan reflektif dan berpikir kritis. Pada ranah sosial-emosional, dominasi interaksi dengan asisten virtual dan robot AI disebut berpotensi mengikis empati serta kemampuan komunikasi langsung.
Kekhawatiran lain berkaitan dengan privasi dan proteksi anak di ruang digital. Kompleksitas bahasa yang dipengaruhi budaya gim, meme, dan tren digital disebut kerap luput dari pemantauan sistem moderasi AI standar, sehingga memunculkan pertanyaan tentang keamanan dan perlindungan anak secara online.
Ke depan, Generasi Alpha diproyeksikan memasuki dunia yang makin berpusat pada AI. Mereka diperkirakan menjadi generasi yang paling melek teknologi, dengan kemampuan adaptasi tinggi dan potensi inovasi besar. Meski demikian, berbagai keunggulan itu juga menuntut penguatan empati, integritas digital, serta literasi teknologi sejak dini agar pemanfaatan AI berjalan lebih aman dan bertanggung jawab.