Pendiri sekaligus CEO Input Output (Cardano), Charles Hoskinson, memprediksi bahwa dalam satu dekade ke depan agen kecerdasan buatan (AI) akan mengambil alih sebagian besar aktivitas di internet, melampaui peran manusia dalam berbagai interaksi digital. Ia menilai pergeseran ini berpotensi mengubah fondasi model bisnis perusahaan teknologi besar seperti Google, Amazon, dan Facebook.
Mengutip laporan CoinDesk pada Rabu (6/5/2026), Hoskinson mengatakan bahwa pada 2035 mayoritas aktivitas internet—mulai dari pencarian, perdagangan, hingga bentuk interaksi digital lainnya—akan dilakukan oleh agen AI, bukan lagi manusia secara langsung. Menurutnya, perubahan tersebut bukan sekadar kelanjutan dari evolusi teknologi, melainkan disrupsi besar yang dapat mengguncang industri yang selama ini bergantung pada iklan.
“Amazon, Google, Facebook, mereka sebenarnya khawatir dengan revolusi agentic ini,” ujar Hoskinson. Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan itu kini mengalokasikan investasi besar karena “seluruh model bisnis mereka akan terdampak secara signifikan.”
Hoskinson menjelaskan, agen AI tidak memiliki preferensi terhadap merek dan tidak memiliki kecenderungan untuk mengklik iklan. Kondisi itu, menurutnya, dapat mengancam ekosistem bisnis berbasis periklanan yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama platform seperti Google dan Facebook.
Ia juga menyoroti ketertarikan Google terhadap x402, sebuah protokol yang disebut memungkinkan agen AI melakukan pembayaran otomatis berbasis stablecoin dan aset kripto untuk berbagai kebutuhan layanan digital. “Kenapa menurut Anda Google tertarik dengan x402?” kata Hoskinson, merujuk pada potensi pergeseran menuju sistem transaksi yang lebih otomatis dan berbasis mesin.
Di sisi lain, Hoskinson menilai kehadiran agen AI juga akan mengubah cara kerja industri aset kripto. Ia memperkirakan teknologi tersebut akan mengambil alih tugas-tugas seperti due diligence, eksekusi transaksi, hingga interaksi dengan protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi).
Pandangan Hoskinson disebut sejalan dengan sejumlah tokoh industri lainnya. CEO Coinbase Brian Armstrong, misalnya, menyatakan bahwa dalam waktu dekat jumlah agen AI yang melakukan transaksi akan melampaui manusia. Sementara itu, pendiri Binance Changpeng Zhao bahkan memprediksi agen AI dapat melakukan volume pembayaran hingga jutaan kali lebih besar dibanding manusia.
Meski menilai perubahan ini akan membawa disrupsi besar, Hoskinson melihatnya sebagai peluang bagi industri kripto. Menurutnya, agen AI dapat menyederhanakan pengalaman pengguna sehingga adopsi teknologi blockchain menjadi lebih mudah.
Namun, ia juga mengingatkan pengguna kripto agar tidak bergantung pada pihak ketiga dalam mengelola aset digital. “Pengguna harus memiliki data mereka sendiri, identitas mereka sendiri, dan uang mereka sendiri,” tegasnya. Ia menyoroti risiko penggunaan dompet kustodian (custodial wallet), jaringan berizin, serta pihak ketiga yang dapat sewaktu-waktu membatasi akses pengguna.
Hoskinson turut menyinggung perubahan sikap institusi keuangan besar terhadap kripto. Ia mencontohkan JPMorgan yang sebelumnya membatasi aktivitas terkait aset kripto, namun kini mulai mengembangkan produk berbasis blockchain. “Dulu JPMorgan menutup rekening orang yang terlibat kripto, sekarang mereka justru memiliki produk blockchain,” pungkasnya.