Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mempercepat transformasi ekosistem riset dan inovasi agar memberi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Tenaga Ahli Utama Bidang Organisasi dan SDM BRIN, Walneg S. Jas, menegaskan riset tidak semestinya berhenti pada publikasi, melainkan harus menjadi penggerak kemajuan.
“Mohon digarisbawahi, BRIN ingin menjadi penghela utama ekosistem riset dan inovasi untuk mencapai Indonesia Maju 2045,” kata Walneg dalam Rapat Koordinasi Pusat Riset Kependudukan (PRK) bertajuk “Penguatan Peran Riset Kependudukan dalam Mendukung Komunikasi Publik dan Program Prioritas Pemerintah” di Auditorium Gedung Widya Graha, BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (15/4).
Dalam lima tahun ke depan, Walneg menyebut BRIN memfokuskan kontribusinya melalui tiga jalur utama, yakni pemberdayaan UMKM dan masyarakat, kolaborasi dengan sektor swasta serta BUMN, dan pengembangan teknologi tinggi sebagai modalitas riset. Melalui strategi tersebut, BRIN menyatakan optimistis dapat mendukung target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%.
Walneg juga menekankan perubahan paradigma kerja dari mengejar output menjadi berorientasi pada outcomes atau dampak. Menurutnya, manfaat riset harus dirasakan para pemangku kepentingan. BRIN menargetkan tingkat lisensi hasil riset berada pada kisaran 20–30%, mendekati negara maju yang berada di rentang 30–40%.
Dari sisi sumber daya manusia, BRIN saat ini didukung 7.071 periset. Walneg menyebut sekitar 70% di antaranya merupakan generasi produktif, sementara latar belakang pendidikan S2 dan S3 mencapai 90%.
Meski demikian, ia menilai masih ada sejumlah ruang perbaikan, terutama terkait komunikasi dan koordinasi antarunit di tengah tantangan integrasi dari puluhan lembaga asal. Ia mencontohkan masih adanya perbedaan persepsi mengenai perubahan KKM dan SKP yang disebutnya bertujuan mempermudah periset, namun pada praktiknya kerap dipandang sebagai tantangan.
Selain itu, Walneg menyoroti perlunya penguatan budaya kerja excellence. Ia menilai orientasi budaya riset unggul belum sepenuhnya seragam di seluruh pusat riset dan organisasi riset di lingkungan BRIN.
Aspek lain yang disorot adalah kemampuan beradaptasi terhadap perubahan (changes agility) yang dinilai belum merata. Menurutnya, masih ada pihak yang terjebak pada pendekatan lama, alih-alih menyesuaikan diri dengan tantangan dan target masa depan yang berbeda.
Walneg juga menekankan pentingnya membangun mutual trust atau kepercayaan timbal balik. Ia menyebut terdapat dinamika ketidakpercayaan antara pemimpin dan pihak yang dipimpin, sehingga perbaikan hubungan dinilai krusial agar organisasi dapat bergerak maju tanpa hambatan internal.
Untuk mendukung proses transformasi, ia menegaskan perlunya perubahan pola pikir, dari fixed mindset menjadi growth mindset, serta pergeseran paradigma dari pengembangan IPTEK sebagai output menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional sebagai outcome.