Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria mengungkapkan BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tengah menyiapkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang riset. Dokumen tersebut disebut berpeluang diumumkan kepada publik dalam waktu sekitar satu minggu.
Arif mengatakan SKB itu akan memuat dua buku pedoman. Buku pertama berisi peta jalan riset Indonesia hingga 2045, sedangkan buku kedua memuat agenda riset sampai 2029.
“Nah, ini ada dua buku yang akan kita buatkan surat keputusan bersama antara Mendiktisaintek dengan BRIN,” ujar Arif dalam acara Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize di Ruang Jirap, Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (20/4/2026).
Menurut Arif, SKB tersebut disiapkan sebagai acuan penting bagi arah penelitian di Indonesia. Di dalamnya juga akan diatur pembagian dan penekanan riset dasar (basic research) serta riset terapan (applied research).
Ia menilai keberadaan acuan ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset nasional sekaligus membantu para periset memahami arah pengembangan riset ke depan.
Dalam kesempatan yang sama, Arif menekankan pentingnya menghargai riset yang berorientasi pada masa depan atau bersifat futuristik. Ia menyebut, peta jalan diperlukan untuk membantu memproyeksikan teknologi yang berpotensi berkembang pada tahun-tahun mendatang.
“Me-forecast teknologi ke depan itu berarti kita harus membayangkan 2035 itu teknologi apa yang akan berkembang,” katanya.
Arif mencontohkan riset terkait pengembangan baterai. BRIN, kata dia, tengah menelaah apakah baterai masa depan harus terus berbasis nikel atau dapat menggunakan material lain.
Ia menambahkan, kemampuan berimajinasi melalui proyeksi riset dinilai penting agar riset yang dilakukan saat ini dapat memberi dampak pada tahun 2035 atau 2040. Selain baterai, Arif menyebut riset masa depan juga mencakup bidang kesehatan genomik, sumber energi hijau, hingga artificial intelligence (AI).
“BRIN hadir untuk menyelesaikan masalah hari ini dan juga bisa mengantisipasi masalah masa depan. Jadi, tidak hanya cukup menyelesaikan masalah hari ini tanpa kemampuan mengantisipasi masa depan. Insya Allah kita akan survive selamanya,” ujarnya.