BERITA TERKINI
Brian Yuliarto Soroti Enam Tantangan Tata Kelola AI di Forum OIC-15, Tekankan Regulasi yang Adil dan Etis

Brian Yuliarto Soroti Enam Tantangan Tata Kelola AI di Forum OIC-15, Tekankan Regulasi yang Adil dan Etis

Tehran—Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang kian pesat menjadi perhatian dalam Ministerial Meeting ke-2 Organisation of Islamic Cooperation (OIC-15) Dialogue Platform, Senin (19/05). Teknologi ini dinilai membuka peluang besar di berbagai aspek, namun juga berpotensi memunculkan persoalan baru jika tidak diiringi kerangka regulasi yang adil, etis, dan adaptif.

Pertemuan tersebut dihadiri Menteri Ilmu Pengetahuan, Riset, dan Teknologi Republik Islam Iran Hossein Simaei Sarraf, para menteri dan kepala delegasi negara-negara anggota OIC-15, serta Aftab Ahmad Khokher dari Sekretariat OIC.

Dalam forum itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Brian Yuliarto memaparkan enam tantangan yang menurutnya perlu segera direspons negara-negara OIC dalam mengelola perkembangan AI. Enam isu itu meliputi regulasi, infrastruktur digital, penguatan sumber daya manusia, otoritas data, pembaruan panduan pemanfaatan teknologi, serta peran organisasi profesi.

Brian menekankan pentingnya regulasi yang melindungi kepentingan semua pihak, terutama terkait big data, privasi, dan etika penggunaan teknologi. Ia juga menggarisbawahi perlunya kebijakan yang mampu beradaptasi agar tetap relevan di tengah percepatan inovasi.

Sebagai langkah konkret, Brian memperkenalkan inisiatif Impactful Higher Education, Science, and Technology yang baru diluncurkan kementeriannya. Program ini disebut bertujuan menjembatani kampus, industri, dan masyarakat dalam memanfaatkan AI secara inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, penerapan AI yang konkret diharapkan membuat masyarakat merasakan manfaat langsung, mendorong sektor swasta berinovasi, serta memperluas pemerataan akses teknologi.

Ia juga menautkan gagasan tersebut dengan semangat kolaborasi negara-negara OIC yang mewakili sekitar 1,8 miliar penduduk di empat benua. Dalam sambutannya, Brian menilai dunia Islam memiliki potensi besar untuk ikut membentuk tatanan digital global yang berbasis nilai dan keadilan.

“Kita perlu menciptakan sistem komprehensif dan kebijakan yang visioner. Pertumbuhan AI tidak bisa dihindari, yang penting adalah bagaimana kita membentuk penggunaannya agar bermanfaat bagi masyarakat,” kata Brian.

Dengan mengingat sejarah dunia Islam yang pernah menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan, Brian menyerukan kebangkitan bersama dalam sains dan teknologi, khususnya AI. Ia mengajak negara-negara Muslim membangun ketangguhan, inovasi, dan keterhubungan untuk kembali memimpin dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembangunan masyarakat.

Seruan itu mengemuka di tengah dorongan agar negara-negara Islam bergerak bersama menyusun kerangka tata kelola AI yang adil, etis, dan adaptif, sehingga teknologi tersebut menjadi solusi, bukan ancaman, bagi masa depan bersama.