Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sumatera Utara menilai aparatur sipil negara (ASN) dari kalangan Generasi Z memiliki keunggulan pada penguasaan teknologi, namun tetap memerlukan penguatan pada aspek etika, sikap, serta kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi.
Kepala BPSDM Sumut Agustinus Panjaitan mengatakan pembinaan ASN Gen Z memerlukan pendekatan yang tepat. Ia menyebut, berdasarkan pengalaman saat pelatihan dasar calon pegawai negeri sipil (CPNS), peserta dari kelompok Gen Z menunjukkan kemampuan yang menonjol, terutama dalam bidang teknologi.
“Pengalaman kami saat pelatihan dasar CPNS, rata-rata peserta dari Gen Z dan kemampuan mereka luar biasa. Pengetahuan dan keterampilan mereka sangat baik, terutama soal teknologi,” kata Agustinus, Jumat (8/5/2026).
Meski demikian, Agustinus mengakui masih ada hal yang perlu diperbaiki. Menurutnya, aspek yang dinilai kurang antara lain attitude, serta kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi di lingkungan kerja.
“Yang kami rasa agak kurang itu attitude, bagaimana mereka berkolaborasi dan berkomunikasi. Itu yang kami dorong supaya benar-benar matang dan bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh instansi. Instansi juga harus memahami cara kerja Gen Z,” ujarnya.
Agustinus menilai penguasaan teknologi yang dimiliki ASN Gen Z dapat menjadi kekuatan besar untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik apabila diarahkan dengan baik. Ia mencontohkan kemampuan mereka dalam mengadopsi teknologi atau aplikasi untuk membangun sistem inovasi yang mendukung pelayanan.
“Kalau mereka mengadopsi teknologi atau aplikasi dalam sebuah sistem inovasi, itu luar biasa. Mereka bisa menggabungkan beberapa aplikasi dan semuanya bertujuan untuk pelayanan publik,” katanya.
Ia menegaskan, meski tidak menyamaratakan seluruh Gen Z, penguatan etika tetap penting bagi ASN muda. Karena itu, dalam Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS tetap diberikan materi terkait perilaku dan etika kerja.
“Pesannya, kemampuan adaptasi mereka memang hebat, tetapi attitude juga harus dijaga. Makanya di pelatihan ada materi yang lebih menekankan pada perilaku,” tutur Agustinus.
Agustinus menambahkan, ASN perlu memiliki karakter yang mampu bekerja sama dengan baik serta menjunjung etika dalam bekerja. Ia menyebut, pembekalan perilaku dalam Latsar menjadi salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai ASN.
“Kalau soal teknologi, mereka keren, bahkan kita bisa kalah dalam hal itu. Makanya di Latsar kami banyak memberikan sentuhan terkait perilaku. Itu upaya kami agar mereka memiliki nilai-nilai ASN seperti berakhlak, kompeten, loyal, adaptif, dan kolaboratif,” ujarnya.