Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) membuka program Grant Riset BPDP 2026 bagi peneliti komoditas kelapa sawit, kakao, dan kelapa. Program ini ditujukan untuk mendorong inovasi yang dapat menjawab tantangan sektor perkebunan, mulai dari peningkatan produktivitas, keberlanjutan, hingga pengembangan produk bernilai tambah dan hilirisasi.
Dalam pengantar panduan teknis, Direktur Utama BPDP menekankan riset sebagai fondasi penguatan daya saing industri nasional. Melalui skema grant, BPDP mendorong sinergi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri agar riset tidak berhenti pada tataran akademis, melainkan menghasilkan produk yang siap diterapkan di lapangan maupun dikomersialisasikan. BPDP juga menegaskan orientasi riset pada prinsip keberlanjutan.
Untuk tahun 2026, BPDP menetapkan tujuh bidang prioritas riset, yakni bioenergi; biomaterial dan oleokimia; pangan, pakan, dan kesehatan; lahan, tanah, dan budidaya; pascapanen dan pengolahan; pengolahan limbah dan lingkungan; serta sosial, ekonomi, bisnis hingga teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sejumlah topik yang dicantumkan dalam undangan antara lain pengembangan bioavtur dari kelapa, pemanfaatan biomassa untuk material karbon pada baterai berkelanjutan, serta penerapan kecerdasan buatan dalam agribisnis perkebunan.
Program ini terbuka bagi perguruan tinggi, lembaga penelitian pemerintah maupun swasta, serta unit riset di industri. BPDP mensyaratkan penelitian relevan dengan kebutuhan nasional, memiliki unsur kebaruan (inovasi), dan didukung tim dengan rekam jejak yang jelas. Setiap tim peneliti minimal terdiri dari tiga orang dan maksimal tujuh orang. BPDP juga mewajibkan penandatanganan pakta integritas serta komitmen penyelesaian riset sesuai target.
Komposisi pendanaan diatur dengan ketentuan: maksimal 30% untuk gaji atau honorarium; sekitar 45% atau lebih untuk bahan dan peralatan riset; maksimal 20% untuk perjalanan, seminar, dan publikasi; serta maksimal 5% untuk operasional institusi. Khusus bidang sosial ekonomi, porsi biaya perjalanan dapat mencapai 50% menyesuaikan karakter penelitian.
Pendaftaran proposal dilakukan secara daring melalui portal resmi BPDP dan dibuka hingga 30 Juni 2026. Tahapan seleksi mencakup evaluasi proposal, presentasi, hingga penetapan penerima dana oleh komite litbang. Proposal harus mengikuti sistematika yang ditetapkan, termasuk latar belakang, metodologi, target luaran, serta tingkat kesiapan teknologi (TKT).
Berikut ringkasan bidang prioritas dan contoh topik yang tercantum dalam undangan BPDP.
1) Bioenergi
Untuk kelapa sawit, topik meliputi teknologi konversi minyak dan biomassa sawit menjadi bahan bakar nabati; pemanfaatan biomassa sawit sebagai sumber material karbon untuk teknologi baterai berkelanjutan; pengembangan katalis (termasuk biokatalis) produksi biodiesel yang lebih efektif, dapat didaur ulang, dan ramah lingkungan; optimalisasi model bisnis/komersialisasi produk bioenergi berbasis sawit (BBN/biogas/biomassa); serta kajian nilai ekonomi, keberlanjutan, dan dampak kebijakan pemanfaatan BBN secara komprehensif.
Untuk kelapa, fokus antara lain pengembangan teknologi produksi bioavtur dari kelapa non-standar/off-grade, peningkatan efisiensi dan keandalan rekayasa teknologi konversi bioavtur kelapa, standardisasi mutu dan peningkatan kualitas bioenergi kelapa, serta kajian nilai ekonomi dan dampak kebijakan pemanfaatan bioavtur. Untuk kakao, tidak dicantumkan topik pada bidang ini.
2) Biomaterial dan Oleokimia
Untuk sawit, topik mencakup konversi gliserol-sawit menjadi produk kemurgi; pengolahan minyak dan biomassa sawit untuk specialty/fine chemicals yang berprospek ekonomi tinggi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan; pengembangan bahan penolong (processing aid) seperti filter aid dan katalis untuk mengurangi ketergantungan impor di industri hilir; serta pengembangan biomaterial bernilai ekonomi tinggi berbasis sawit.
Untuk kelapa, topik meliputi pengolahan biomassa kelapa (batang, sabut kelapa muda, pelepah, tempurung, dan lainnya) menjadi produk bernilai tambah tinggi, serta pengolahan minyak dan biomassa kelapa untuk specialty/fine chemicals.
Untuk kakao, terdapat topik pemanfaatan hasil samping kakao menjadi produk biomaterial dan oleokimia, serta pengembangan biomaterial kakao bernilai tambah tinggi sebagai produk non-pangan potensial (farmasi dan kosmetik).
3) Pangan, Pakan, dan Kesehatan
Pada sawit, topik meliputi pemanfaatan komponen utama dan minor minyak sawit/minyak inti sawit dan produk samping industri untuk pengembangan fitokimia, pangan fungsional, ingredien pangan (termasuk aditif) dan suplemen sebagai pengganti impor; penelitian klinis terkait manfaat kesehatan minyak sawit; identifikasi dan mitigasi kontaminan pada minyak sawit dan minyak inti sawit; pengembangan rapid test kit untuk analisis mutu dan kontaminan; studi praktik terbaik pemanfaatan minyak/lemak sawit untuk keamanan pangan, efisiensi, daya saing, dan keberlanjutan IKM; serta studi penggunaan dan keamanan pakan fungsional berbasis sawit sebagai pengganti bahan impor untuk ruminansia, unggas, dan akuakultur.
Pada kelapa, topik antara lain pengembangan functional food, pharmaceutical, dan nutraceutical berbasis kelapa; inovasi pakan ternak berbasis biomassa dan residu kelapa; serta penelitian klinis manfaat kesehatan minyak kelapa.
Pada kakao, topik meliputi pemanfaatan komponen utama kakao untuk fitokimia, pangan fungsional, ingredien pangan, aditif, dan suplemen; pengembangan pangan kakao bernilai tambah dan fungsional dengan pemanfaatan komponen bioaktif; serta pemanfaatan komponen bioaktif kakao untuk produk kesehatan non-medis berbasis bukti ilmiah.
4) Lahan, Tanah, dan Budidaya
Pada sawit, BPDP mencantumkan topik teknologi kuratif pemulihan tanaman terserang Ganoderma secara efektif dan cepat (termasuk pengembangan produk sistemik dengan bukti awal efektivitas TRL 5/6), rekomendasi pengendalian penyakit pada berbagai tingkat serangan dan kondisi lahan; aplikasi Best Management Practices pada lahan Peremajaan Sawit Rakyat dan/atau teknologi efisiensi pemupukan untuk peningkatan produktivitas; bioteknologi maju dan bioinformatika pada tahapan aplikatif TRL 5/6 untuk produksi bibit unggul dan mitigasi cekaman biotik/abiotik; pemanfaatan AI pada kegiatan agronomi (pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan, logistik dan transportasi); digitalisasi manajemen perkebunan; serta aplikasi drone untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas.
Pada kelapa, topik meliputi pemuliaan dan perbanyakan massal benih termasuk optimalisasi mikropropagasi (antara lain COAXIM dan unfertilized ovary); penerapan GAP spesifik lokasi pada perkebunan kelapa rakyat; teknologi pengendalian OPT yang lebih efektif dan ramah lingkungan; serta pengembangan molecular diagnostics untuk deteksi dini dan pengendalian hama terpadu.
Pada kakao, topik mencakup pemuliaan, penataan varietas, perbanyakan, penyimpanan, dan distribusi benih; budidaya kakao yang tangguh dan adaptif perubahan iklim termasuk implementasi GAP; serta pengendalian OPT terutama penggerek buah kakao (PBK), busuk buah (Phytophthora palmivora), dan VSD.
5) Pascapanen dan Pengolahan
Pada sawit, topik meliputi pengembangan cara/teknik baru, peralatan dan mesin, metode, sistem, biosistem, instrumentasi, serta ICT/IoT dalam proses pascapanen dari TBS hingga menghasilkan CPO dan pengelolaan CPO menjadi bahan siap olah; teknologi pascapanen untuk peningkatan efisiensi dan produktivitas; pengelolaan pascapanen yang memperhatikan kualitas TBS dan CPO sesuai peruntukan; serta pengembangan metode penelusuran (traceability) hasil panen terkait sertifikasi ketertelusuran keberlanjutan sepanjang rantai pasok hingga transportasi, inventory, ekspor, dan konsumen akhir.
Pada kelapa, fokus pada modernisasi dan otomasi panen dan pascapanen serta standardisasi mutu, termasuk diversifikasi proses pengolahan produk dan limbah untuk mendukung ekonomi sirkular.
Pada kakao, topik mencakup modernisasi dan otomasi budidaya, panen, dan pascapanen; penguatan praktik pascapanen untuk menekan kehilangan hasil dan menjaga konsistensi mutu melalui optimasi metode berbasis teknologi proses yang tepat, memenuhi keamanan pangan, hemat energi, dan cost-effective; serta pengembangan protokol fermentasi berbasis lokasi dan mikroflora spesifik untuk mutu single origin maupun keseragaman mutu bagi industri besar.
6) Pengolahan Limbah dan Lingkungan
Pada sawit, topik meliputi strategi, metode, dan rencana aksi industri sawit hulu-hilir menuju Net Zero Emission 2050 dan dukungan percepatan perdagangan karbon; pengelolaan batang sawit ex-replanting; penggunaan Life Cycle Assessment untuk menilai dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi; serta rekayasa konservasi dan restorasi lingkungan berbasis spasial dan data presisi.
Pada kelapa, topik mencakup sistem monitoring lingkungan dan lanskap berbasis spasial dan data presisi, rekayasa pengelolaan lingkungan kelapa yang adaptif dan climate-smart, serta penguatan ekonomi sirkular dan nilai ekonomi jasa lingkungan kelapa.
Pada kakao, fokus pada pengelolaan ekosistem kakao berkelanjutan adaptif perubahan iklim melalui konservasi keanekaragaman hayati; model integrated landscape management untuk menekan degradasi lingkungan dan meningkatkan efisiensi produksi berkelanjutan (uji coba penerapan IS Cocoa); serta pemantauan dan mitigasi degradasi lingkungan berbasis masyarakat.
7) Sosial Ekonomi, Manajemen, Bisnis, Pasar, dan TIK
Pada sawit, topik meliputi penguatan sistem kelembagaan, korporatisasi, dan pola kemitraan untuk meningkatkan posisi tawar petani swadaya; desain kebijakan pengembangan pasar dan bursa komoditas berbasis sawit dan turunannya; pengembangan pasar perdagangan karbon berbasis sawit untuk pemenuhan target NDC 2050; pemanfaatan teknologi informasi dan digitalisasi dalam sistem agribisnis; serta valuasi sosial, ekonomi, dan lingkungan terkait pengusahaan kembali kebun sawit yang terlanjur berada di kawasan hutan.
Pada kelapa, topik meliputi perdagangan internasional benih dan produk kelapa; model peremajaan dan intensifikasi adaptif lingkungan; model kelembagaan pengembangan industri kelapa terintegrasi berkelanjutan dalam skala keekonomian; pengendalian risiko produksi dan integrasi hulu–hilir budidaya; serta pengembangan teknologi AI untuk sistem budidaya, panen, dan pascapanen kelapa.
Pada kakao, topik mencakup sistem agroforestry kakao berkelanjutan; pemberdayaan petani dan pengembangan kelembagaan berbasis kemitraan skala kawasan; perdagangan internasional kakao untuk merespons perubahan lingkungan global (EUDR); penguatan rantai nilai dan tata kelola guna meningkatkan kualitas biji dan produk hilir sesuai standar internasional; pemanfaatan TIK dan AI dalam pengembangan industri kakao terintegrasi; serta kajian model agroforestry kakao (sosial-ekonomi).
BPDP menyatakan ketentuan persyaratan, kriteria, format, mekanisme pengajuan proposal, serta sistem monitoring dan evaluasi program dirangkum dalam Buku Panduan Teknis Tata Cara Pengajuan Penelitian dan Pengembangan yang dapat diakses melalui www.bpdp.or.id dan https://program-riset.bpdp.or.id/.
Untuk diseminasi informasi teknis dan tata cara pendaftaran, BPDP juga merencanakan Webinar Sosialisasi Call for Proposal Grant Riset BPDP 2026. Jadwal pelaksanaan webinar akan diinformasikan melalui situs BPDP.
Melalui program ini, BPDP menargetkan lahirnya inovasi yang memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada teknologi impor, serta membangun ekosistem riset berkelanjutan yang menghubungkan kampus dan industri secara lebih nyata.