Bnetfit, internet service provider (ISP) yang merupakan bagian dari Jala Lintas Media Group (JLM), memaparkan arah dan ambisi perusahaan menuju 2026 untuk bertransformasi menjadi penyedia layanan ICT terintegrasi yang mendukung ekosistem digital nasional.
CEO Jala Lintas Media Group, Ade Tjendra, mengatakan perusahaan tidak hanya menargetkan peran sebagai penyedia internet, melainkan ingin menjadi penopang perkembangan dunia digital di Indonesia. Ia menekankan pembangunan infrastruktur yang “scalable, secure, dan reliable” untuk mendukung transformasi digital pemerintah, industri, hingga generasi mendatang.
Seiring transformasi tersebut, Victor Irianto yang sebelumnya menjabat sebagai CEO kini mengemban peran Komisaris. Fokusnya adalah memperkuat positioning JLM dan Bnetfit agar adaptif terhadap percepatan transformasi digital di Indonesia.
Dalam strategi pengembangan, Bnetfit menargetkan perluasan layanan melampaui konektivitas internet. Fokus strategis yang disebutkan meliputi pengembangan ekosistem digital seperti automation & AI, layanan cloud, security, data center bersama Nexbyte, IoT, hingga konektivitas regional dengan penguatan jalur Indonesia–Singapura dan ASEAN sebagai koridor digital masa depan.
Victor Irianto menyampaikan perusahaan ingin memastikan Bnetfit berada di garis depan dalam membangun ekosistem teknologi digital yang dapat mendukung otomatisasi industri, termasuk adopsi AI serta pertumbuhan ekosistem cloud dan data center. Ia juga menekankan pentingnya konektivitas Indonesia yang kuat, tidak hanya secara nasional tetapi juga regional.
Untuk mendukung pengembangan ekosistem digital nasional, Bnetfit menerapkan teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), yang disebut sebagai evolusi terkini dari teknologi DWDM asal Amerika. Teknologi ini memungkinkan peningkatan kapasitas jaringan serat optik secara signifikan tanpa perlu membangun jaringan baru.
DWDM yang diimplementasikan diklaim dapat mendukung lebih dari 96 sinyal data (channel) dengan kecepatan 100 Gbps, 400 Gbps, 800 Gbps, atau lebih. Dengan kapasitas yang lebih besar, teknologi ini disebut dapat menyederhanakan infrastruktur, mengurangi kebutuhan perangkat tambahan, menekan konsumsi daya, serta meningkatkan efisiensi operasional.
Di jalur internasional, Bnetfit didukung sistem kabel bawah laut SEA Cable Exchange-1 (SeaX-1) dan Super Sistem Batam–Singapura (SSBS). Sistem kabel bawah laut sepanjang 250 km dengan 24 pasang serat optik ini menghubungkan Mersing (Malaysia), Changi (Singapura), dan Batam (Indonesia), serta ditujukan untuk menghadirkan konektivitas internasional yang stabil dan berkelanjutan bagi berbagai kebutuhan telekomunikasi.
Sementara di sisi domestik, Bnetfit akan didukung sistem kabel laut BTI‑1 dengan panjang sekitar 4.500 km dari Batam ke Jakarta dan Manado, serta percabangan ke Gresik, Makassar, dan Balikpapan. Infrastruktur ini disebut menjadi tulang punggung trafik data nasional. Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperkuat kapasitas jaringan, mendukung kedaulatan digital Indonesia, dan memastikan arus data nasional berjalan cepat, aman, dan terkendali, baik di dalam negeri maupun ke wilayah internasional.
Terkait perluasan jaringan, Bnetfit juga menjalin kolaborasi open access dengan PT Linknet Tbk dan Asianet. Melalui kerja sama ini, Bnetfit disebut dapat memaksimalkan lebih dari 7 juta homepass yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia untuk memperluas cakupan layanan digital terintegrasi.