BERITA TERKINI
ASSI Soroti Regulasi Direct-to-Device agar Indonesia Tak Sekadar Jadi Pasar Layanan Satelit

ASSI Soroti Regulasi Direct-to-Device agar Indonesia Tak Sekadar Jadi Pasar Layanan Satelit

Teknologi ponsel yang dapat terhubung langsung ke satelit atau direct-to-device (D2D) kian menjadi perhatian global. Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menilai tren ini membuka peluang besar bagi industri satelit nasional, namun sekaligus menghadirkan tantangan terkait regulasi dan kedaulatan data.

Ketua Umum ASSI Rusdianto Yuli Hermansyah menjelaskan, teknologi D2D pada dasarnya terbagi dalam dua kategori utama, yakni koneksi langsung ke perangkat genggam (direct-to-cell) dan koneksi ke perangkat sensor atau direct IoT. Menurutnya, pengiriman data dari sensor IoT yang selama ini umumnya melalui pengumpul data terlebih dahulu berpotensi berubah menjadi langsung dari sensor ke satelit.

D2D memungkinkan ponsel terhubung ke jaringan satelit tanpa memerlukan infrastruktur tambahan seperti BTS. Di sisi lain, perangkat sensor di berbagai sektor—mulai dari maritim hingga industri—juga berpeluang terkoneksi langsung ke satelit untuk mengirimkan data secara real-time.

Selain D2D, Rusdianto menyinggung meningkatnya kebutuhan layanan Positioning, Navigation, and Timing (PNT) di tengah tensi geopolitik global. Ia menyebut banyak negara kini berupaya memiliki sistem navigasi sendiri sebagai alternatif dari GPS.

Meski potensinya besar, implementasi D2D di Indonesia disebut masih menunggu kejelasan regulasi. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) masih mengkaji sejumlah aspek, termasuk model operasional dan penggunaan spektrum frekuensi.

Saat ini, layanan D2D dimungkinkan menggunakan spektrum Mobile Satellite Service (MSS), namun bandwidth yang tersedia dinilai masih terbatas. Di tingkat global, International Telecommunication Union (ITU) tengah membahas penambahan alokasi frekuensi untuk mendukung teknologi ini, yang diperkirakan baru terealisasi pada akhir 2027 atau awal 2028.

Rusdianto juga memaparkan dua pendekatan teknologi dalam D2D, yakni model transparan dan regeneratif. Model transparan memanfaatkan jaringan seluler yang sudah ada, sedangkan model regeneratif memungkinkan satelit berfungsi layaknya operator seluler dengan jaringan inti sendiri. Untuk konteks Indonesia, ia menyebut opsi pengoperasian masih dikaji, apakah akan dijalankan oleh operator seluler atau operator satelit. Namun, ia memperkirakan satelit berpeluang menjadi perpanjangan BTS melalui model transparan.

ASSI menekankan pentingnya menjaga kedaulatan dalam implementasi teknologi D2D. Idealnya, infrastruktur satelit dikendalikan oleh entitas dalam negeri, meski hal itu membutuhkan waktu dan investasi besar. Sebagai langkah awal, ASSI mendorong agar data dari layanan D2D tetap “landing” di Indonesia, meskipun infrastruktur satelitnya melibatkan pihak asing, dengan pertimbangan perlindungan data konsumen dan kedaulatan digital.

Perkembangan D2D juga terjadi di tengah persaingan global yang semakin ketat. Selain Starlink, sejumlah pemain lain seperti Amazon dan perusahaan asal China disebut tengah mengembangkan konstelasi satelit LEO dalam jumlah besar. Kondisi ini membuat masa depan industri satelit, termasuk di Indonesia, dinilai akan sangat dipengaruhi oleh kecepatan adaptasi terhadap teknologi baru, sementara pemerintah didorong untuk sigap merespons perkembangan tersebut.