Tingginya penetrasi internet di Indonesia dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan literasi digital masyarakat. Kondisi ini terlihat dari masih maraknya penyebaran hoaks, terutama melalui media sosial dan grup percakapan.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Dra. Frida Kusumastuti, MSi, menyampaikan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 82 persen. Angka tersebut setara dengan sekitar 220 juta pengguna dari total sekitar 280 juta penduduk yang sudah mengakses dan menggunakan internet.
Namun, Frida menyebut tingkat literasi digital di Indonesia masih berada pada kategori sedang, dengan skor sekitar 3,5 dari 5 pada tahun 2025. Ia menilai salah satu indikator literasi digital yang belum merata adalah tingginya peredaran hoaks.
“Masih tingginya angka hoaks menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis masyarakat perlu terus ditingkatkan,” ujarnya dalam program Dialog Malang Menyapa, Kamis, 16 April 2026.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab hoaks mudah menyebar adalah kebiasaan masyarakat yang langsung membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Dalam praktiknya, kata dia, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga berperan sebagai produsen sekaligus penyebar pesan atau prosumer.
Frida juga menyoroti peran perempuan dalam konteks penyaringan informasi, mengingat aktivitas perempuan yang tinggi di media sosial. Ia mendorong perempuan untuk mengambil peran sebagai penyaring informasi atau gatekeeper sebelum meneruskan pesan.
“Perempuan harus berani menjadi filter. Jika ada informasi yang meragukan, perlu diverifikasi terlebih dahulu sebelum disebarkan,” tegasnya.