Yayasan Bijana Paksi Sitengsu memperkenalkan Simetris, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk memantau rantai pasok serta menjaga standar kualitas makanan dari hulu ke hilir dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Inisiatif ini muncul menyusul berulangnya kasus keracunan makanan yang menimpa siswa di sejumlah daerah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) beberapa waktu terakhir.
Sekretaris Yayasan Bijana Paksi Sitengsu, Tedi Anggoro, mengatakan pengembangan aplikasi tersebut merupakan langkah preventif di tengah maraknya laporan keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG di DIY. Ia menyebut, berdasarkan pernyataan Pemda DIY, evaluasi besar-besaran tengah dilakukan.
Dalam pengembangannya, yayasan membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, penyedia jasa boga (catering), dan instansi kesehatan. “Tujuannya adalah menciptakan ekosistem Makan Bergizi Gratis yang tidak hanya sehat secara nutrisi, tetapi juga terjamin keamanannya secara digital,” kata Tedi, Selasa (21/4/2026).
Tedi menyampaikan, melalui penerapan teknologi Simetris, pihaknya berharap kasus keracunan makanan akibat kelalaian prosedur dapat ditekan hingga titik nol. Upaya tersebut, menurutnya, sekaligus mendukung visi pemerintah dalam mencetak generasi emas melalui asupan gizi yang aman dan berkualitas.
Ia juga menyoroti kewajiban Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) untuk menyampaikan laporan rutin dan mengantongi sertifikasi higienitas yang ketat sebagai bagian dari pencegahan kejadian serupa. Tedi menambahkan, hal ini juga menjadi perhatian Dinas Kesehatan DIY yang menekankan pentingnya pengawasan berlapis karena risiko kontaminasi dapat terjadi sejak pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada siswa.
Menurut Tedi, Simetris ditujukan untuk menjawab tantangan logistik dan keamanan pangan dalam skala besar. Ia menjelaskan, aplikasi tersebut memungkinkan pelacakan asal-usul bahan baku, analisis kesegaran dan masa kedaluwarsa, serta pemantauan suhu penyimpanan secara real-time.
Fajar Saptono dari Tim IT Yayasan Bijjana Paksi Sitengsu menambahkan, penggunaan AI memungkinkan proses monitoring yang lebih terbuka dari hulu ke hilir. Ia menyebut seluruh tahapan, mulai dari masa tanam di pemasok hingga makanan diterima siswa, dapat terdokumentasi secara akurat.
Fajar berharap sistem monitoring digital itu dapat membangun ekosistem pangan yang lebih transparan dan efisien, sekaligus mendorong kebanggaan anak muda untuk kembali membangun desa melalui pertanian.
Simetris disebut sebagai sistem manajemen pangan yang dirancang untuk menciptakan transparansi penuh dalam rantai pasok makanan, mulai dari profil pemasok hingga porsi makanan yang diterima siswa di sekolah. Sistem ini mengintegrasikan seluruh aktor dalam rantai produksi secara real-time.