Yayasan Bijana Paksi Sitengsu mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Simetris sebagai langkah preventif menyikapi kasus keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat terjadi di sejumlah daerah, termasuk Yogyakarta. Aplikasi ini dirancang untuk memantau rantai pasok (supply chain) sekaligus menjaga standar kualitas makanan dari hulu hingga hilir.
Sekretaris Yayasan Bijana Paksi Sitengsu, Tedi Anggoro, mengatakan pengembangan Simetris dilakukan di tengah evaluasi yang tengah berjalan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurutnya, yayasan membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, penyedia jasa boga (catering), dan instansi kesehatan.
“Tujuannya adalah menciptakan ekosistem Makan Bergizi Gratis yang tidak hanya sehat secara nutrisi, tetapi juga terjamin keamanannya secara digital,” kata Tedi. Ia berharap pemanfaatan teknologi dapat menekan kasus keracunan akibat kelalaian prosedur.
Dalam konteks pencegahan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) disebut diwajibkan membuat laporan rutin dan mengantongi sertifikasi higienitas yang ketat. Tedi menambahkan, pengawasan berlapis menjadi perhatian karena risiko kontaminasi dapat terjadi sejak pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi kepada siswa.
Tedi menjelaskan, Simetris dirancang untuk menjawab tantangan logistik dan keamanan pangan dalam skala besar. “Dengan aplikasi Simetris, setiap bahan baku dapat dilacak asal-usulnya. AI kami akan menganalisis kesegaran bahan, masa kedaluwarsa, hingga memantau suhu penyimpanan secara real-time,” ujarnya.
Dari sisi teknis, Fajar Saptono dari Tim IT Yayasan Bijana Paksi Sitengsu menyebut penggunaan AI memungkinkan monitoring yang lebih terbuka dari hulu ke hilir. Ia mengatakan seluruh proses, mulai dari masa tanam di pemasok hingga makanan diterima siswa, dapat terdokumentasi secara akurat.
Simetris dirancang untuk membangun transparansi penuh dalam rantai pasok makanan, mulai dari profil pemasok hingga porsi makanan yang diterima siswa di sekolah. Sistem ini mengintegrasikan berbagai faktor produksi secara real-time, termasuk profil digital pemasok yang mencatat kapasitas panen dan riwayat pengiriman secara otomatis.
Fajar menjelaskan, pemesanan bahan baku dilakukan melalui e-PO (electronic Purchase Order) yang secara otomatis memotong stok di “lumbung digital” setelah disetujui. Setiap pergerakan barang dipantau melalui manifest pengiriman digital yang dilengkapi QR Code untuk memastikan bahan yang masuk memiliki catatan resmi.
Di dapur produksi, Simetris menerapkan standar HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) dalam format digital. Sistem disebut dapat memblokir distribusi secara otomatis apabila titik kendali kritis—seperti suhu penyimpanan, proses memasak, dan pengemasan—belum terpenuhi.
Inovasi lain yang diusung Simetris adalah integrasi Internet of Things (IoT), seperti timbangan digital terhubung untuk mencatat berat bahan masuk dan keluar secara otomatis, sensor suhu real-time untuk memantau cold storage dan suhu inti masakan, serta gateway lokal agar data tetap tersimpan dan terkirim meski koneksi internet terputus.
“Prinsip kami tetap tegas: AI hanya memberikan rekomendasi, namun keputusan final dan tanda tangan verifikasi tetap berada di tangan manusia (QC),” kata Fajar. Ia menambahkan, sistem inti dan IoT dasar sudah berjalan penuh, sementara pengembangan hub regional dan integrasi AI masuk dalam peta jalan berikutnya.
Sejumlah fitur yang disebut menjadi unggulan antara lain AI Quality Inspection untuk verifikasi kualitas bahan baku melalui pemindaian visual berbasis AI, Traceability System untuk melacak distribusi dari dapur pusat (SPPG) hingga ke meja siswa, serta Real-time Reporting yang mengintegrasikan laporan harian sesuai standar dinas kesehatan dan menyediakan peringatan dini apabila terdeteksi anomali.
Tedi juga menyampaikan bahwa yayasan menekankan pentingnya kolaborasi guna memastikan ketersediaan pangan yang sehat dan berkelanjutan bagi program pemerintah. Ia menyebut progres pembangunan infrastruktur dapur MBG telah mencapai 100 persen, dengan fasilitas yang dirancang tidak hanya untuk pengolahan makanan, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Selain itu, yayasan menyatakan pemanfaatan AI juga diterapkan untuk pemantauan dapur melalui sistem computer vision yang terintegrasi dengan CCTV. Sistem ini disebut dapat memantau penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh staf hingga mendeteksi keberadaan hama yang berisiko mengontaminasi masakan, sekaligus mengawasi kepatuhan terhadap SOP, termasuk kontrol suhu dan waktu penyajian.
Di sisi manajemen rantai pasok, integrasi AI juga diarahkan untuk mencegah kebocoran anggaran dan pemborosan logistik. Melalui sistem tersebut, ketersediaan bahan baku dari petani lokal dapat dipantau otomatis, termasuk deteksi anomali harga vendor dan perhitungan stok yang lebih presisi. Tedi menilai digitalisasi ini dapat mendukung efisiensi distribusi di wilayah seperti Gunungkidul serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas pencatatan data sepanjang proses penyaluran program.