Presiden China Xi Jinping menyiapkan kecerdasan buatan (AI) dan penguatan militer sebagai bagian dari strategi jangka panjang negaranya dalam menghadapi tekanan serta rivalitas dengan Amerika Serikat (AS).
Dalam pendekatan tersebut, AI diposisikan sebagai elemen penting untuk memperkuat kapasitas China di berbagai bidang strategis. Di saat yang sama, penguatan militer dipandang sebagai instrumen utama untuk menjaga kepentingan nasional dan meningkatkan daya tawar China di tengah dinamika persaingan dengan AS.
Strategi ini menggambarkan upaya China membangun ketahanan dan kemampuan jangka panjang, seiring hubungan kedua negara yang terus dibayangi kompetisi geopolitik dan teknologi.