BERITA TERKINI
World Health Day 2026: ITB Dorong Riset, Inovasi, dan Kolaborasi untuk Solusi Kesehatan

World Health Day 2026: ITB Dorong Riset, Inovasi, dan Kolaborasi untuk Solusi Kesehatan

BANDUNG—Memperingati World Health Day 2026, Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan penguatan peran di bidang kesehatan melalui riset, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Berbagai inisiatif yang dijalankan sivitas akademika ITB diarahkan agar sains tidak berhenti di laboratorium, melainkan hadir sebagai solusi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat, mulai dari pengembangan robotika lunak, alat kesehatan lokal, fasilitas riset farmasi, hingga program pengabdian dan capaian penghargaan.

Salah satu sorotan datang dari pengembangan soft robotics. Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, Ir. Vani Virdyawan, S.T., M.T., Ph.D., dalam Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Semester I Tahun Akademik 2025/2026, menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Ilmu yang Menghidupkan: Peran Soft Robotics dalam Pelayanan Kesehatan bagi Sesama”. Ia menjelaskan bahwa robot lunak dibuat dari material fleksibel sehingga lebih aman digunakan di lingkungan tidak terstruktur, termasuk di dalam tubuh manusia. Menurutnya, keunggulan soft robot adalah kemampuannya beradaptasi dengan bentuk dan tekstur lingkungan sekitar sehingga risiko kerusakan jaringan atau cedera pada pasien dapat diminimalkan. Teknologi ini dinilai berpotensi membantu menjawab tantangan kesehatan nasional, seperti keterbatasan akses teknologi canggih, ketergantungan pada peralatan impor, dan pemerataan ketersediaan alat medis.

Di ranah pengabdian masyarakat, ITB mengirimkan bantuan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih warga terdampak bencana di Kota Langsa, Aceh. Ketua tim, Prof. Dr. Ir. Bagus Budiwantoro dari Kelompok Keahlian Perancangan Teknik dan Produksi FTMD ITB, menyebut IPA Mobile dirancang untuk membantu masyarakat yang belum mendapatkan layanan air bersih dengan memanfaatkan berbagai sumber air baku seperti sungai, danau, situ, maupun embung. Sistem ini berkapasitas 2 liter per detik atau sekitar 7.000 liter per jam. Dalam kondisi normal, fasilitas tersebut dapat melayani kebutuhan air minum dan MCK bagi sekitar 200 kepala keluarga atau setara 800 orang, dan pada kondisi darurat dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1.200 hingga 1.600 orang.

Di bidang farmasi, Guru Besar Sekolah Farmasi ITB Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D. memaparkan prospek obat herbal sebagai terapi alternatif kanker. Ia menyampaikan ada 10 tanaman yang berpotensi sebagai pelawan sel kanker berdasarkan kajian ilmiah, yakni tapak dara, taxol, lempuyang wangi, temu kunci, melinjo, daun sirsak, bawang tiwai, keladi tikus, biji anggur, dan propolis. Bahan-bahan tersebut disebut telah melalui uji senyawa aktif, uji sel, uji hewan, hingga uji pada pasien, dan menunjukkan potensi dalam menekan aktivitas sel kanker.

Upaya mendorong kemandirian alat kesehatan juga terlihat melalui kolaborasi ITB dengan PT Oneject Indonesia. Dalam kemitraan ini, ITB berperan dalam pengembangan teknologi dan desain fungsional, sedangkan Oneject menangani implementasi industri, pengendalian kualitas, dan distribusi ke fasilitas kesehatan. Sejumlah inovasi yang ditampilkan antara lain konsep diagnostik terpadu yang menggabungkan Urine Analyzer, Chemistry Analyzer, dan Blood Analyzer. Kolaborasi ini juga mencakup pengembangan smart syringe, needle free injector, serta perangkat Surface Plasmon Resonance (SPR) berbasis nano untuk deteksi dini tuberkulosis.

Di tingkat institusi, ITB memiliki Pusat Teknologi Kesehatan dan Keolahragaan (PTKK) yang berdiri sejak 2007 dan berperan menjembatani perguruan tinggi dengan industri. PTKK mengembangkan berbagai sistem, perangkat keras, perangkat lunak, dan formula untuk memajukan kesehatan masyarakat dan keolahragaan. Pusat ini menaruh perhatian pada hilirisasi inovasi hingga tahap uji klinik dan sertifikasi, dengan fokus riset pada biomolecular sensing, bioimaging & image processing, bioinstrumentation, serta bioinformation systems & applications. PTKK juga memandang masa depan teknologi kesehatan bertumpu pada layanan virtual, analisis big data, serta inovasi yang mempermudah pemeriksaan dan perawatan.

Kolaborasi lintas lembaga turut diperkuat melalui kerja sama ITB dan Universitas Padjadjaran untuk mengembangkan Program Multidisiplin Teknologi Kesehatan bersama Rumah Sakit Universitas Indonesia dan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Kolaborasi ini menekankan pentingnya pertemuan antara dunia teknik, kedokteran, rumah sakit, dan pendidikan pascasarjana agar hasil rekayasa kesehatan dapat lebih dekat diterapkan di lingkungan klinis.

Pengakuan terhadap inovasi kesehatan dari ITB juga tercermin dari capaian penghargaan. Prof. Trio Adiono, S.T., M.T., Ph.D., Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, meraih Penghargaan Karya Anak Bangsa Kategori Individu Berprestasi pada Health Innovation Festival (HAIFEST) 2025 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI. Penghargaan itu diberikan atas kontribusinya dalam mengembangkan desain chip prosesor dalam negeri untuk berbagai alat kesehatan vital. Chip lokal tersebut telah diimplementasikan pada perangkat elektromedis seperti alat antropometri, patient monitor, ventilator noninvasif, high-flow nasal cannula (HFNC), EKG, hingga infusion pump, dan dinilai memperkuat kandungan lokal serta mengurangi ketergantungan pada komponen impor.

Penghargaan serupa juga diterima Guru Besar Sekolah Farmasi ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., pada 2024 atas kontribusi pengembangan senyawa marker untuk tanaman obat. Dari riset tersebut lahir Markherb, yang ditujukan untuk membantu industri obat herbal memperoleh marker dengan harga lebih terjangkau, mudah diakses, serta berkualitas setara atau lebih baik dari produk impor. Produk ini dikembangkan melalui startup PT EBM Saintifik dan Teknologi (EBM Scitech).

Di tingkat komunitas, Sekolah Farmasi ITB menjalankan program pengabdian berkelanjutan Desa Mitra Sehat dan Produktif di Desa Tanjungsari, Kabupaten Tasikmalaya. Program lima tahun ini dirancang sebagai pengabdian sistematis berdampak jangka panjang, dengan fokus peningkatan gizi untuk menekan stunting dan peningkatan ekonomi masyarakat. Dari sisi kesehatan, program menekankan pemahaman stunting, aksi nyata pemenuhan gizi, serta pembiasaan gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan hipertensi.

Inovasi juga lahir dari mahasiswa. Tim SGA dari Sekolah Farmasi ITB mengembangkan “Clariskin Nano”, krim nanoemulsi anti jerawat berbahan ekstrak temulawak, pandan, dan serai wangi. Produk ini dirancang dengan menggabungkan efektivitas teknologi nanoemulsi dan prinsip keberlanjutan, sejalan dengan minat pada green chemistry dan sustainable cosmetics, termasuk dalam formulasi, proses produksi, hingga pemilihan kemasan.

Prestasi internasional turut dicapai melalui pendekatan komunikasi kesehatan. Empat mahasiswa Program Studi Farmasi Klinik dan Komunitas ITB yang tergabung dalam Tim Pharmashield meraih juara kompetisi IPSF APRO Resonance for Neglected Tropical Disease lewat komik edukasi berjudul “Myths and Maladies: Wunga’s Fight Against Leprosy”. Komik tersebut dibuat untuk mengedukasi masyarakat tentang kusta dan menegaskan peran farmasis dalam meningkatkan kesadaran kesehatan di komunitas. Tim menyusunnya berdasarkan riset tentang persepsi masyarakat terhadap kusta, terutama di Indonesia Timur, lalu menerjemahkan informasi medis ke dalam narasi visual yang ringkas.

Di sisi penguatan fasilitas riset, ITB bekerja sama dengan Daewoong Foundation membentuk Joint Research Laboratory bernama Drug Delivery System Research Institute ITB-Daewoong Foundation. Laboratorium ini ditujukan untuk mendukung riset, pengujian, dan pengembangan industri kefarmasian serta kesehatan di Indonesia. Fasilitasnya mencakup Dissolution Room untuk mengukur kecepatan dan efisiensi obat terlarut dalam tubuh serta Analysis Room untuk memastikan pengembangan obat memenuhi indikator dan standar kualitas, sekaligus memperkuat jembatan dari penelitian menuju skala produksi yang lebih besar.

Rangkaian riset, pengabdian, kolaborasi industri, hingga penguatan ekosistem inovasi tersebut menempatkan ITB sebagai salah satu institusi yang terus mendorong kontribusi sains dan teknologi bagi layanan kesehatan, baik melalui pengembangan alat, obat, maupun pendekatan edukasi dan pemberdayaan masyarakat.