BERITA TERKINI
Waspada, Email Phishing Kian Sulit Dikenali karena Bantuan AI

Waspada, Email Phishing Kian Sulit Dikenali karena Bantuan AI

Kecerdasan buatan (AI) dinilai membawa dampak ganda bagi dunia teknologi informasi. Di satu sisi, AI mendorong efisiensi bisnis. Namun di sisi lain, teknologi ini juga dimanfaatkan peretas untuk meningkatkan efektivitas serangan siber.

Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu, mengatakan tren serangan siber terus berevolusi seiring adopsi AI yang semakin luas di berbagai sektor TI. Menurutnya, penggunaan AI tidak hanya terjadi di lingkungan bisnis, tetapi juga di kalangan pelaku kejahatan siber.

"Sekarang semuanya serba AI. Namun pada saat yang sama, hal itu juga terjadi di kalangan para peretas. Mereka menggunakan AI bukan hanya untuk efisiensi kerja, tetapi untuk melacak dan mempertajam serangan siber mereka," ujar Clara dalam pemaparannya, Selasa (14/4/2026) di Jakarta.

Clara menilai AI kini bukan lagi teknologi eksperimental. Integrasi AI pada layanan populer seperti Google Drive dan Microsoft 365 disebut menjadi salah satu indikator bahwa AI telah menjadi standar industri. Namun, keterhubungan antarperusahaan yang semakin erat dan tumpukan data yang terus membesar dinilai turut memperlebar celah keamanan yang harus dihadapi tim TI.

Salah satu ancaman yang disebut paling nyata adalah evolusi email phishing. Jika sebelumnya pesan phishing cenderung mudah dikenali karena bahasa yang kaku, kini peretas dapat memanfaatkan AI untuk menyusun pesan yang lebih personal dan meyakinkan.

Selain itu, peretas juga disebut mampu menganalisis profil korban, mengetahui proyek yang sedang dikerjakan, hingga memantau jam operasional sistem perusahaan untuk menentukan waktu serangan yang paling sulit terdeteksi.

"Serangan tidak lagi terjadi secara mendadak. Peretas semakin pintar; mereka menanam 'benih' terlebih dahulu dan menyerang di momen paling kritis, misalnya saat penutupan kuartal atau periode penjualan tinggi. Tujuannya agar perusahaan merasa rentan dan terpaksa membayar tebusan demi kelancaran operasional," kata Clara.

Ia juga mengingatkan bahwa perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan lama dalam menghadapi ancaman ini. Serangan ransomware, menurutnya, kini tidak hanya mengincar data utama, tetapi juga mulai menargetkan data cadangan (backup).

Dalam konteks tersebut, Synology meluncurkan ActiveProtect Appliance, yang disebut sebagai solusi perlindungan data untuk menghadapi kecanggihan serangan di era AI. Solusi ini menawarkan perlindungan terintegrasi dengan kemampuan mengonsolidasi cadangan dari berbagai perangkat ke dalam satu sistem terpusat. Melalui manajemen satu dasbor, administrator TI diklaim dapat memantau keamanan dengan lebih efisien tanpa perlu mempelajari banyak perangkat lunak berbeda.

Clara menekankan pentingnya memastikan data cadangan memiliki ketahanan yang memadai. Menurutnya, cadangan hanya bernilai ketika dapat dipulihkan, sehingga perusahaan memerlukan solusi yang tidak sekadar menyimpan data, tetapi juga memastikan data tersebut tidak mudah ditembus atau dimanipulasi.

"Backup hanya berguna jika bisa dipulihkan. Di era AI, perusahaan membutuhkan solusi yang tidak hanya menyimpan data, tetapi juga memastikannya tidak dapat ditembus oleh manipulasi peretas," ujarnya.