Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya menegaskan Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, merupakan kawasan strategis yang diproyeksikan menjadi pusat riset dan pengembangan bioekonomi tropis untuk Indonesia bagian barat.
Pernyataan itu disampaikan Surya saat mendampingi peninjauan kawasan TSTH2 oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan pada Sabtu (24/1/2026). Menurut Surya, kehadiran DEN menandakan pembangunan ekonomi berbasis riset, inovasi, dan kearifan lokal tidak lagi hanya menjadi agenda daerah, melainkan telah masuk prioritas strategis nasional.
Surya menilai TSTH2 bukan sekadar proyek daerah atau laboratorium penelitian. Ia menyebut kawasan tersebut sebagai ruang yang diharapkan mampu menghubungkan pengembangan ilmu pengetahuan dari desa dan dataran tinggi Humbang Hasundutan dengan kontribusi nyata bagi ekonomi nasional.
Ia menjelaskan, TSTH2 memiliki potensi lebih dari 100 jenis tanaman herbal dan hortikultura unggulan lokal, di antaranya andaliman, kunyit hitam, dan jahe merah, serta berbagai varietas hortikultura dataran tinggi. Kondisi agroklimat Humbang Hasundutan dinilai ideal untuk pengembangan perbenihan, riset adaptasi iklim, hingga produksi bahan baku berkualitas ekspor.
Surya juga menyoroti tantangan kemandirian benih hortikultura di Sumatera Utara. Ia menyebut penangkar lokal bawang merah saat ini baru mampu memenuhi sekitar 6,79% kebutuhan bibit unggul dari total luas pertanaman sekitar 3.861 hektare pada 2025. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mendorong Sumatera Utara sebagai sentra riset dan produksi benih unggul adaptif lokal melalui TSTH2, sekaligus mendukung kemandirian benih hortikultura di Sumatera dan sekitarnya.
Selain aspek riset, TSTH2 juga diarahkan agar berdampak langsung bagi masyarakat. Kawasan ini dikembangkan sebagai pusat pembelajaran petani, inkubator UMKM berbasis herbal, serta basis pendidikan vokasi pertanian dan bioteknologi. Surya menyatakan sasaran akhirnya adalah peningkatan pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja baru, regenerasi petani muda, dan penguatan ekonomi desa.
Pengembangan TSTH2, lanjut Surya, sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya kemandirian bangsa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di sektor pangan, kesehatan, dan energi.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengintegrasikan TSTH2 ke dalam RPJMD, RKPD, serta program prioritas organisasi perangkat daerah terkait. Dukungan yang disiapkan mencakup regulasi daerah, pembangunan infrastruktur pendukung kawasan, fasilitasi perizinan, kemitraan dengan BRIN, perguruan tinggi, dan dunia usaha, serta dorongan terhadap hilirisasi hasil riset. Surya menegaskan pihaknya ingin memastikan TSTH2 tidak berhenti pada riset, tetapi bergerak hingga hilirisasi dan pasar.
Menutup keterangannya, Surya berharap kunjungan Ketua DEN dapat memperkuat sinergi pemerintah pusat dan daerah, serta menjadikan TSTH2 sebagai model nasional pengembangan bioekonomi berbasis riset.