BERITA TERKINI
UNDIP Panen Perdana Padi Biosalin Berbasis Biochar di Lahan Pesisir Jepara

UNDIP Panen Perdana Padi Biosalin Berbasis Biochar di Lahan Pesisir Jepara

Tim peneliti dan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan panen perdana Padi Biosalin + Biochar di kawasan Teluk Awur, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Minggu (6/4). Kegiatan ini menjadi langkah awal pengembangan inovasi pertanian adaptif untuk lahan pesisir yang memiliki tingkat salinitas dan kebasaan tinggi.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Prof. Dr. Ir. Florentina Kusmiyati, M.Sc. bersama Anasrullah S.P., M.S., Nani Kitti Sihaloho, M.P., dan Bagus Herwibawa, S.P., M.P., Ph.D., serta tim mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi UNDIP, yakni Aisyah Sri Rahayu, Ifarel Noer Amanda, Listyana Arum Hapsari, dan Syah Syafiq Muthawa’arief.

Pengembangan Padi Biosalin berangkat dari kondisi lahan pesisir Jepara yang cenderung kurang mendukung budidaya padi konvensional karena kadar garam dan pH yang tinggi, sehingga produktivitasnya dinilai rendah. Melalui inovasi ini, tim mengembangkan varietas padi yang mampu beradaptasi pada lahan marginal tersebut.

Selain penggunaan varietas adaptif, pendekatan ini juga mengombinasikan biochar sebagai pembenah tanah. Biochar digunakan untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, meningkatkan kapasitas tanah menahan unsur hara, serta mengurangi dampak cekaman salinitas.

Hasil panen perdana disebut menunjukkan capaian yang menggembirakan. Tanaman Padi Biosalin dilaporkan tumbuh baik, memiliki tingkat keberhasilan hidup yang tinggi, dan membentuk malai secara optimal meski ditanam pada kondisi tanah yang kurang ideal. Temuan ini menjadi indikasi potensi pengembangan padi biosalin di lahan pesisir.

Dibandingkan varietas padi biasa, Padi Biosalin dinilai memiliki keunggulan utama berupa kemampuan adaptasi pada tanah dengan kadar garam dan pH tinggi. Aplikasi biochar juga disebut memperbaiki kondisi tanah dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Dampak yang mulai terlihat antara lain pemanfaatan kembali lahan yang kurang produktif, stabilitas pertumbuhan tanaman pada kondisi cekaman, peluang peningkatan pendapatan petani, serta pemanfaatan lahan marginal secara berkelanjutan.

Program ini didukung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai penyedia benih padi varietas Biosalin. Sementara itu, UNDIP berperan sebagai mitra akademik melalui dukungan dana penelitian, pendampingan teknis, serta implementasi teknologi agar inovasi dapat diterapkan secara langsung dan berkelanjutan di lapangan.

Kolaborasi UNDIP dan BRIN diharapkan mempercepat pengembangan padi biosalin sebagai solusi pertanian adaptif di wilayah pesisir Indonesia. Ke depan, inovasi ini direncanakan terus diuji dalam skala lebih luas guna memperoleh data produksi yang lebih komprehensif.

Prof. Florentina Kusmiyati menyatakan inovasi ini merupakan upaya menjawab tantangan pertanian di wilayah pesisir. “Kami mengembangkan padi biosalin + Biochar sebagai solusi adaptif untuk lahan dengan tingkat salinitas dan kebasaan tinggi. Melalui panen perdana ini, kami melihat potensi besar untuk meningkatkan produktivitas lahan pesisir sekaligus mendukung kemandirian pangan,” ujarnya.

Rektor UNDIP Prof. Dr. Suharnomo, M.Si., menegaskan inovasi Padi Biosalin + Biochar merupakan bagian dari komitmen kampus dalam menghadirkan solusi bagi masyarakat dan menekankan pentingnya kolaborasi berbasis riset. “Kami mendorong sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat agar inovasi seperti padi biosalin + biochar dapat diimplementasikan secara lebih luas dan berkelanjutan,” katanya.