BERITA TERKINI
UMS Sosialisasikan Program Riset Strategis BRIN 2026–2030 untuk Perkuat Sinergi Penelitian

UMS Sosialisasikan Program Riset Strategis BRIN 2026–2030 untuk Perkuat Sinergi Penelitian

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Sosialisasi Program Riset Strategis BRIN 2026–2030 dengan menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. Kegiatan berlangsung di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah, Kampus UMS, Solo, Jawa Tengah, Minggu.

Forum tersebut disebut menjadi momentum penguatan sinergi riset antara UMS dan BRIN, sekaligus mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian yang mengacu pada roadmap nasional.

Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BRIN serta jajaran pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) yang turut hadir. Di antaranya Rektor UMPKU beserta tim riset kolaborasi, Rektor UMMAT dan tim kolaborasi riset, Rektor UMUKA dan tim riset kolaborasi, Rektor UNISA Solo beserta tim, serta Rektor UMKLA bersama tim kolaborasi riset.

Ia mengajak peserta memaknai pertemuan ilmiah tersebut sebagai bagian dari “Tadarus Riset”, istilah yang digunakan untuk menggambarkan semangat kolektif membangun budaya riset yang berkelanjutan.

Menurut Harun, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari audiensi bersama Diktilitbang PP Muhammadiyah di kantor BRIN pada 5 Januari, yang membahas pentingnya sinergi BRIN dengan PTMA di Indonesia.

Harun menjelaskan, sejak awal berdiri UMS telah memprioritaskan pengembangan riset. Pada 1995, UMS disebut menjadi salah satu perguruan tinggi swasta yang berhasil memperoleh dana riset APBN melalui skema riset dosen pemula. UMS juga tercatat sebagai PTS yang memperoleh alokasi beasiswa APBN.

Ia menambahkan, UMS menjadi motor program RISPRO-LPDP berkemajuan dengan dana Rp10 miliar dan disebut akan ditambah Rp10 miliar lagi sehingga total pendanaan menjadi Rp20 miliar. Dalam program tersebut, UMS memenangi enam judul riset. Dari BRIN, UMS saat ini memperoleh lima judul riset dan berharap jumlahnya meningkat pada tahun berikutnya.

Selain itu, Harun mendorong pembentukan riset unggulan yang berfokus pada pengurangan impor dan penguatan kebutuhan pokok nasional, seperti pangan, energi, dan industri farmasi.

Wakil Rektor V Bidang Riset, Inovasi, Reputasi, dan Kemitraan UMS Prof. Ir. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D. menjelaskan pengelolaan riset di UMS dilakukan berdasarkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). UMS membagi pengelolaan riset dalam tiga klaster, yakni TKT 1–3 (riset dasar), TKT 4–6 (pengembangan), serta TKT 7–9 (hilirisasi dan komersialisasi).

Supriyono menyebut sejumlah produk UMS telah mencapai TKT 7–9 dan berbasis pasar, seperti produk farmasi dan kesehatan, serta aplikasi komunikasi untuk biro umrah yang digunakan oleh beberapa lembaga dan menghasilkan pendapatan universitas. Ia menambahkan, terdapat sekitar 30 riset di level TKT 4–6 dan 10 di antaranya mendekati tahap hilirisasi. UMS, kata dia, akan memperkuat inkubasi dan kolaborasi agar semakin banyak produk riset yang berdampak.

Dalam paparannya, Arif Satria menegaskan pentingnya roadmap riset nasional sebagai acuan bagi dosen dan mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Ia juga menekankan bahwa riset perlu berdampak dan menjadi jawaban atas persoalan masyarakat serta industri.

Arif turut menyampaikan apresiasi atas langkah UMS dalam membangun identitas sebagai research university berbasis swasta. Ia menyatakan bangga atas komitmen UMS dalam membangun ekosistem riset dan berharap semakin banyak karya yang dapat dihilirkan.