Kementerian Sains dan Teknologi Vietnam menegaskan layanan internet satelit orbit rendah seperti Starlink tidak dipandang sebagai ancaman signifikan bagi perusahaan telekomunikasi domestik, namun pemerintah akan memantau ketat penerapan layanan, terutama terkait harga dan persaingan.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers rutin kementerian pada 1 April. Wakil Direktur Departemen Telekomunikasi, Nguyen Anh Cuong, memaparkan peta jalan penyebaran internet satelit orbit rendah di Vietnam sekaligus menekankan perlunya regulasi harga untuk layanan baru tersebut.
Dalam fase uji coba, Starlink diberikan lisensi dengan batas maksimal 600.000 pelanggan. Meski skalanya dibatasi, penyedia layanan tetap diwajibkan mematuhi seluruh ketentuan hukum dan regulasi telekomunikasi Vietnam, termasuk aturan pengelolaan harga dan persaingan, sebagaimana operator jaringan domestik lainnya.
Dari sisi biaya, pengguna di Vietnam diperkirakan membayar sekitar 435 dolar AS pada bulan pertama, yang mencakup 350 dolar AS untuk perangkat (sekitar 9,2 juta VND) dan 85 dolar AS untuk biaya layanan (sekitar 2,2 juta VND). Pada bulan-bulan berikutnya, biaya layanan disebut berada di kisaran 85 dolar AS per bulan, yang dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan layanan internet fiber optik.
Sebagai perbandingan, paket internet fiber optik yang populer di Vietnam saat ini berada pada kisaran 180.000–220.000 VND per bulan untuk paket dasar, 230.000–300.000 VND per bulan untuk paket menengah, serta 350.000–500.000 VND per bulan untuk paket berkecepatan tinggi. Dengan perbandingan tersebut, biaya Starlink diperkirakan sekitar 7–10 kali lebih mahal.
Nguyen Anh Cuong menyatakan harga layanan harus ditetapkan berdasarkan biaya dengan prinsip transparansi dan keterbukaan. Regulator juga akan memantau ketat proses implementasi. Jika terjadi penyesuaian harga—terutama penurunan harga yang menunjukkan tanda-tanda persaingan tidak sehat—pihak berwenang dapat menerapkan langkah pengendalian, bahkan menangguhkan penerbitan tarif baru sesuai ketentuan.
Dari perspektif pasar, Departemen Telekomunikasi menilai Starlink hanya akan menguasai sekitar 1–2% dari total pelanggan internet jalur tetap, sehingga tidak menimbulkan tekanan besar bagi perusahaan telekomunikasi dalam negeri. Perwakilan departemen juga menilai Starlink tidak bersaing langsung dengan internet kabel di Vietnam dan akan menghadapi tantangan untuk bersaing, terutama di wilayah perkotaan yang memiliki banyak pilihan layanan dengan biaya relatif terjangkau.
Meski demikian, pemerintah memandang internet satelit sebagai pelengkap penting bagi infrastruktur telekomunikasi. Berbeda dari internet tradisional yang bergantung pada kabel serat optik atau stasiun pangkalan darat, Starlink mengirimkan sinyal langsung dari satelit ke perangkat pengguna, sehingga memungkinkan konektivitas di area yang belum terjangkau infrastruktur terestrial.
Menurut Nguyen Anh Cuong, layanan ini dinilai cocok untuk daerah terpencil, pulau-pulau, serta kebutuhan konektivitas di laut dan di udara—wilayah yang menghadapi kendala biaya dan medan bila harus membangun jaringan berbasis kabel serat optik.
Selain melayani pengguna akhir, internet satelit juga disebut berperan dalam kondisi darurat. Ketika bencana alam mengganggu sistem transmisi di darat, layanan satelit dapat membantu membangun koneksi sementara untuk menjaga komunikasi dan mendukung pemulihan jaringan. Dalam skenario tertentu, layanan ini juga dapat menjadi solusi transmisi bagi stasiun BTS di daerah terpencil dan berpotensi menekan biaya dibanding pemasangan kabel melalui medan yang kompleks.
Terkait pembatasan 600.000 pelanggan, regulator menyebut pertimbangan utamanya berasal dari kebutuhan manajemen dan faktor teknis. Karena layanan ini tergolong baru, diperlukan skala yang jelas untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi sebelum mempertimbangkan perluasan. Di sisi lain, kapasitas internet satelit juga dibatasi oleh bandwidth satelit di orbit yang harus dibagi di antara pengguna dalam area cakupan, sehingga kecepatan dapat menurun seiring bertambahnya pelanggan.
Regulator menilai batas 600.000 pelanggan merupakan ambang yang sesuai untuk menjaga kualitas layanan, dengan target kecepatan sekitar 100 Mbps per pengguna. Angka tersebut juga hanya mencakup sebagian kecil dari sekitar 25 juta pelanggan internet kabel di Vietnam, sehingga dinilai tidak mengganggu pasar secara signifikan, namun menambah opsi konektivitas yang lebih fleksibel.
Dalam kerangka infrastruktur digital, internet satelit diposisikan bukan sebagai pengganti jaringan terestrial, melainkan sebagai penopang untuk mengisi “celah” konektivitas yang belum terjangkau, sehingga membentuk jaringan yang lebih berlapis dan berkelanjutan.