DEPOK — Universitas Indonesia (UI) menyatakan kesiapannya untuk menjadi motor penggerak kolaborasi riset di kawasan Asia-Pasifik setelah menerima kunjungan kehormatan (courtesy visit) dari Association of Pacific Rim Universities (APRU).
Wakil Rektor UI Bidang Akademik Mahmud Sudibandriyo mengatakan, kunjungan APRU tidak hanya memperkuat jejaring akademik internasional, tetapi juga membuka ruang bagi universitas riset di Asia-Pasifik untuk merancang model kolaborasi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat global.
“Kami melihat pentingnya menghubungkan riset lintas ekosistem dengan pendidikan berbasis pengalaman agar mahasiswa dan dosen dapat berkontribusi langsung pada solusi nyata,” kata Mahmud di Depok, Jumat.
Dalam pertemuan tersebut, UI menekankan pentingnya peningkatan partisipasi aktif dalam berbagai program APRU, termasuk terkait mekanisme pengajuan inisiatif agar dapat masuk ke dalam portofolio program APRU, baik sebagai lead university maupun participating university.
UI juga menyoroti perlunya kejelasan prosedur dan akses informasi agar universitas anggota dapat lebih aktif mengusulkan program kolaboratif yang dinilai relevan dengan kebutuhan akademik dan riset di kawasan Asia-Pasifik.
UI menyatakan akan memanfaatkan platform komunikasi APRU untuk memperluas visibilitas program akademik internasional, seperti pertukaran mahasiswa, konferensi internasional, serta kegiatan riset kolaboratif, sehingga dapat menjangkau partisipan yang lebih luas dari berbagai negara anggota.
Kedua pihak sepakat memperkuat komunikasi berkelanjutan dalam merancang program kolaboratif ke depan. Kolaborasi itu tidak hanya berfokus pada mobilitas akademik, tetapi juga penguatan riset, inovasi pendidikan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat global.
Rombongan APRU yang hadir dipimpin Chief Executive Thomas Schneider. APRU yang berkantor pusat di Hong Kong merupakan konsorsium internasional beranggotakan universitas riset terkemuka dari kawasan Asia-Pasifik, Amerika, dan Oseania.
Organisasi tersebut berfokus pada kolaborasi lintas negara dalam bidang riset, pendidikan tinggi, inovasi, serta respons terhadap tantangan global, termasuk perubahan iklim, kesehatan global, ketahanan pangan, transformasi digital, dan pembangunan berkelanjutan.