Tekanan pekerjaan, tenggat waktu yang ketat, lingkungan kerja yang kurang kondusif, hingga tuntutan untuk selalu produktif dapat memengaruhi kesehatan mental pekerja. Aktivis Kesehatan Mental Renggi Ardiansyah mengatakan tekanan kerja kerap menjadi hal yang ditemui sehari-hari oleh banyak orang yang bekerja di perusahaan.
Dalam acara Kompas Editor's Talks: Apakah Masyarakat Indonesia Sudah Cukup Sehat Mental? yang dilaporkan Kompas.com pada Jumat (6/9/2024), Renggi menjelaskan ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kondisi mental seseorang di tempat kerja. Di antaranya beban kerja yang banyak, jam kerja yang panjang, serta lingkungan kerja yang terlalu kompetitif.
Renggi mencontohkan situasi ketika pekerja sudah mengikuti arahan atasan, namun tetap menghadapi revisi yang seolah menempatkan kesalahan pada pekerja. Kondisi itu dapat makin berat ketika usaha yang dilakukan sampai mengorbankan waktu istirahat dan tidur, tetapi tidak diiringi apresiasi.
Salah satu langkah yang dinilai efektif untuk menjaga kesehatan mental di tempat kerja adalah menerapkan work-life balance. Menurut Renggi, pekerja perlu memberi jeda antara bekerja dan beristirahat agar tubuh dan pikiran tetap seimbang.
Ia menyoroti kebiasaan sebagian pekerja yang terus bekerja hingga lupa makan, bahkan sampai memicu keluhan seperti asam lambung naik. Karena itu, menjaga keseimbangan antara waktu kerja dan waktu istirahat penting untuk mencegah kelelahan fisik sekaligus membantu menjaga stabilitas mental.
Sejumlah cara mencapai work-life balance juga disebutkan, merujuk Better Up. Di antaranya menetapkan batasan yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi, serta mengelola pekerjaan dengan memprioritaskan hal-hal yang penting terlebih dahulu.
Selain itu, pekerja disarankan memiliki kemampuan beradaptasi, termasuk menyesuaikan jadwal ketika ada situasi mendadak tanpa harus mengorbankan waktu pribadi.
Renggi menegaskan, menjaga kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab individu. Perusahaan dan atasan juga memiliki peran penting dalam menciptakan suasana kerja yang lebih sehat dan produktif.
Menurutnya, pemimpin yang peduli pada kesejahteraan mental karyawan dapat melakukan langkah-langkah seperti memberikan apresiasi, tidak membebankan pekerjaan di luar job desk, mengajari hal yang belum dikuasai karyawan, serta menyediakan akses konsultasi mental dengan profesional.
Ia menambahkan, lingkungan kerja yang terbuka dan kolaboratif dapat membantu mengurangi tekanan emosional. Komunikasi yang baik antara rekan kerja dan atasan dinilai dapat membuat suasana kerja terasa lebih nyaman.