BERITA TERKINI
Terralogiq Perkuat Infrastruktur Cloud BRImo untuk Dukung Skalabilitas Layanan

Terralogiq Perkuat Infrastruktur Cloud BRImo untuk Dukung Skalabilitas Layanan

Terralogiq memperkuat infrastruktur digital aplikasi super BRImo milik Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui kolaborasi pemanfaatan teknologi cloud. Langkah ini dilakukan untuk menopang skalabilitas layanan perbankan yang terus mengalami lonjakan pengguna.

Dalam proyek berskala enterprise ini, Terralogiq menekankan pentingnya menjaga stabilitas operasional di tengah kompleksitas sistem layanan perbankan, termasuk pemenuhan standar keamanan siber dan kepatuhan regulasi yang ketat. Chief Technology Officer Terralogiq, Farry Argoebie, menyatakan perusahaan berkomitmen memastikan proses transisi teknologi berjalan mulus dengan target tanpa gangguan layanan. “Tantangan utama dalam pengelolaan proyek berskala enterprise, sejatinya terletak pada kepastian stabilitas di tengah kompleksitas sebuah layanan. Kami selalu berkomitmen penuh guna memastikan proses transisi teknologi operasional ini, dapat berjalan mulus dengan status zero downtime,” kata Farry dalam siaran pers, Jumat (17/4/2026).

Berdasarkan data yang disampaikan, jumlah pengguna aktif BRImo saat ini mencapai 45,9 juta pelanggan. Adapun akumulasi nilai transaksi perbankan melalui aplikasi tersebut tercatat menembus Rp 7.057 triliun.

Dalam implementasinya, pelaksana proyek menggunakan Google Kubernetes Engine (GKE) sebagai tulang punggung arsitektur microservices. Penggunaan infrastruktur ini disebut menjadi salah satu kunci untuk membantu operasional perbankan meninggalkan sistem legacy, sekaligus mengoptimalkan otomatisasi infrastruktur komputasi.

Melalui pemanfaatan kerangka kerja tersebut, sistem dapat melakukan penyesuaian skala secara otomatis agar performa aplikasi tetap selaras dengan beban transaksi. Pembaruan infrastruktur jaringan operasional juga ditujukan agar tim pengembang internal dapat lebih fokus pada inovasi fitur, termasuk pengembangan layanan investasi, tanpa terbebani hambatan pada sistem inti.

Penguatan ekosistem digital ini turut diarahkan untuk membangun fondasi komputasi terintegrasi yang mendukung berbagai inisiatif Artificial Intelligence (AI). Kapasitas pengolahan big data berskala besar dinilai membuat pihak perbankan lebih fleksibel dalam merespons kebutuhan pasar.

Selain itu, pembaruan ini disebut bertujuan membangun ekosistem ekonomi berbasis Application Programming Interface (API), sehingga layanan perbankan digital dapat terhubung lebih mulus dengan mitra asuransi maupun ekosistem fintech. Arsitektur komputasi awan terbaru yang dibangun berbasis Google Cloud Platform (GCP) juga diklaim menerapkan standar keamanan tingkat enterprise, dengan tata kelola perlindungan informasi nasabah untuk menjaga integritas data pengguna.

Penguatan infrastruktur digital berbasis GCP ini diharapkan menjadi tolok ukur industri perbankan. Keberhasilan pembaruan teknologi sistem perbankan tersebut diyakini dapat mempercepat penetrasi inklusi keuangan di Indonesia.