DENPASAR — Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara masyarakat mengakses informasi, tetapi juga memengaruhi pola komunikasi di dalam keluarga. Kehadiran gawai yang semakin melekat dalam keseharian membuat interaksi tatap muka perlahan berkurang, terutama antara orang tua dan anak.
Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 7 Mei 2026, Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ (K), Mars, menjelaskan anak-anak saat ini tumbuh di tengah arus informasi yang sangat cepat. Mereka terbiasa mendapatkan hiburan, pengetahuan, hingga berkomunikasi melalui layar gawai. “Kalau dulu anak mendengarkan cerita panjang dari orang tuanya, sekarang perhatian mereka sangat cepat berpindah. Sedikit saja tidak menarik, mereka langsung beralih ke layar lain,” ujarnya.
Menurutnya, situasi tersebut turut mengubah pola komunikasi keluarga. Anak-anak generasi digital dinilai cenderung lebih aktif di dunia maya dibandingkan berbicara langsung dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan, sebagian anak disebut lebih nyaman mengekspresikan diri melalui media sosial daripada berdiskusi dengan keluarga.
Perubahan ini semakin terasa setelah pandemi COVID-19, ketika kegiatan belajar dan komunikasi banyak dilakukan secara daring. Gawai menjadi kebutuhan utama untuk sekolah, bekerja, sekaligus hiburan. Namun, intensitas penggunaan yang meningkat juga berdampak pada berkurangnya waktu berkumpul dan berbicara di rumah.
Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, SpKJ (K), menilai kedekatan emosional antara orang tua dan anak perlu mendapat perhatian di tengah perkembangan teknologi. “Anak-anak sebenarnya ingin diperhatikan, diajak bicara, dipeluk, dan ditemani. Jangan sampai gadget menggantikan kehadiran orang tua,” katanya.
Sementara itu, dr. Made Peri Ardiana K. menjelaskan berbagai aplikasi digital memang dirancang agar pengguna bertahan lebih lama di depan layar. Notifikasi, video pendek, hingga media sosial membuat seseorang sulit melepaskan diri dari gawai, termasuk anak-anak dan remaja.
Meski begitu, teknologi tidak sepenuhnya berdampak negatif. Gawai tetap membantu komunikasi dan mempermudah aktivitas sehari-hari. Tantangannya, bagaimana keluarga menjaga keseimbangan antara dunia digital dan interaksi nyata di rumah.
Di tengah lahirnya generasi digital, komunikasi sederhana seperti makan bersama, bercengkerama, atau mendengarkan cerita anak dinilai semakin penting. Hubungan keluarga, pada akhirnya, tidak dapat dibangun hanya melalui koneksi internet, melainkan juga melalui kehadiran dan perhatian secara langsung.