BERITA TERKINI
Teknologi 3D, Robotik, dan AI Dorong Presisi Operasi Ortopedi

Teknologi 3D, Robotik, dan AI Dorong Presisi Operasi Ortopedi

Konsultan senior bedah ortopedi dari Singapore General Hospital (SGH), dr Henry Soeharno, menilai perawatan ortopedi modern kini tidak cukup hanya mengandalkan keahlian bedah. Menurutnya, arah perkembangan ortopedi bergerak menuju presisi, kolaborasi tim, serta pengalaman pasien yang menyeluruh sejak persiapan hingga pemulihan.

“Perawatan ortopedi modern bukan hanya soal melakukan operasi dengan baik, tetapi memastikan pasien ditangani oleh tim yang tepat, dengan teknologi yang tepat, dan melalui proses yang terkoordinasi sejak awal hingga pemulihan,” kata Henry dalam pernyataan tertulis.

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi medis mendorong perubahan signifikan dalam bedah ortopedi. Pemanfaatan teknologi tiga dimensi (3D), sistem robotik, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membantu dokter menyusun perencanaan operasi dengan lebih baik dan menjalankan tindakan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi dibandingkan pendekatan konvensional.

Dalam praktiknya, pencetakan 3D digunakan untuk menghasilkan model anatomi pasien, implan khusus, serta panduan bedah yang dirancang secara individual. Pendekatan ini dinilai dapat meningkatkan ketepatan perencanaan dan pelaksanaan operasi. Dengan implan yang disesuaikan, durasi operasi dapat dipersingkat, dampak terhadap jaringan lunak diminimalkan, dan risiko komplikasi pascaoperasi ditekan.

“Model anatomi dan panduan bedah yang dibuat khusus membantu kami memahami struktur pasien secara lebih detail sebelum operasi dilakukan. Ini berdampak langsung pada akurasi dan hasil jangka panjang,” ujar Henry.

Selain 3D, AI juga dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi diagnosis, khususnya dalam pembacaan hasil rontgen dan MRI.

Untuk prosedur artroplasti atau penggantian sendi, SGH menggunakan teknologi robotik. Menurut Henry, sistem ini memungkinkan perencanaan praoperasi yang sangat detail sekaligus memberikan panduan presisi selama tindakan berlangsung.

“Tindakan artroplasti dengan bantuan robotik meningkatkan konsistensi dan akurasi penempatan implan. Ini sangat penting untuk memastikan fungsi sendi yang optimal dan umur implan yang lebih panjang,” jelasnya. Ia menambahkan, penggunaan robotik juga dikaitkan dengan proses pemulihan pasien yang lebih cepat dan stabil.

SGH juga mengembangkan teknik ortopedi minimal invasif, termasuk artroplasti sendi dan operasi tulang belakang endoskopi. Dalam beberapa tahun terakhir, teknik ini semakin banyak diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan pasien tanpa mengorbankan hasil klinis.

Pada operasi tulang belakang endoskopi, dokter dapat menjangkau area tulang belakang melalui sayatan yang lebih kecil dengan bantuan kamera dan mikroskop bedah. Pendekatan ini disebut dapat mengurangi kerusakan otot, menurunkan nyeri pascaoperasi, serta menekan risiko infeksi.

“Hingga saat ini, kami telah melakukan sekitar 500 tindakan operasi tulang belakang endoskopi. Hasilnya menunjukkan pemulihan yang lebih cepat dan pengalaman pasien yang jauh lebih baik,” kata Henry.

Di luar ruang operasi, Henry menekankan pentingnya perawatan lanjutan saat pasien kembali ke rumah. Dalam dua minggu pertama pascaoperasi, perawat dan fisioterapis dapat melakukan kunjungan rumah untuk memeriksa luka, menilai mobilitas, dan membimbing rehabilitasi. SGH juga menyediakan opsi fisioterapi jarak jauh serta konsultasi video dengan dokter bedah, yang dinilai membantu pasien yang tinggal jauh agar tetap mendapatkan tindak lanjut tanpa harus kembali ke Singapura.

Untuk mempersiapkan pasien sejak awal, SGH menyelenggarakan Joint Replacement Class bersamaan dengan pemeriksaan praoperasi. Dalam sesi ini, pasien mendapatkan pengetahuan tentang latihan rehabilitasi, manajemen nyeri, dan perawatan luka sebelum tindakan dilakukan.

SGH juga memanfaatkan pemantauan jarak jauh melalui jam tangan pintar dan sensor lutut untuk memantau aktivitas serta perkembangan rehabilitasi pasien. Data real-time tersebut membantu tim medis mendeteksi potensi masalah lebih dini dan menyesuaikan rencana perawatan dengan lebih cepat.

“Pemantauan jarak jauh memberi kami visibilitas yang lebih baik terhadap proses pemulihan pasien, bahkan setelah mereka kembali ke rumah. Ini memperkuat keselamatan dan kualitas perawatan,” tutup Henry.