BERITA TERKINI
Studi: Rencana Diet dari Chatbot AI Berisiko Kurang Gizi pada Remaja

Studi: Rencana Diet dari Chatbot AI Berisiko Kurang Gizi pada Remaja

Remaja kini mulai memanfaatkan chatbot kecerdasan buatan (AI) untuk menyusun rencana diet. Namun, studi terbaru mengingatkan bahwa rencana makan yang dihasilkan AI berpotensi membuat remaja kekurangan gizi dan bahkan memicu gangguan makan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Nutrition menilai rencana makan buatan AI cenderung meremehkan kebutuhan nutrisi dan asupan kalori yang diperlukan remaja untuk tumbuh sehat. Peneliti utama, Ayse Betul Bilen dari Istanbul Atlas University, menyebut rencana diet dari AI sangat berbeda dibanding yang disusun ahli gizi.

“Mengikuti rencana makan yang tidak seimbang atau terlalu ketat selama masa remaja dapat berdampak negatif pada pertumbuhan, kesehatan metabolisme, dan perilaku makan,” kata Bilen, seperti dilansir US News, Senin (16/3/2026).

Dalam studi tersebut, peneliti meminta lima model AI online gratis—ChatGPT 4, Gemini 2.5 Pro, Bing Chat-5GPT, Claude 4.1, dan Perplexity—untuk membuat rencana makan. Peneliti memberikan data usia, tinggi badan, dan berat badan dari empat remaja hipotetis berusia 15 tahun, terdiri atas dua remaja dengan kelebihan berat badan dan dua remaja dengan obesitas.

Kelima model AI itu diminta menyusun rencana makan selama tiga hari, dengan tiga kali makan utama dan dua camilan per hari. Sebagai pembanding, peneliti juga meminta seorang ahli gizi yang berspesialisasi dalam kesehatan remaja menyusun rencana dengan pedoman yang sama.

Hasilnya, model AI memperkirakan kebutuhan energi remaja hampir 700 kalori lebih rendah dibanding perhitungan ahli gizi. Selisih ini setara dengan melewatkan satu kali makan penuh setiap hari.

Penelitian juga menemukan ketidakseimbangan dalam komposisi makronutrien pada rencana makan buatan AI. Model AI cenderung menghitung terlalu tinggi kebutuhan protein dan lemak, serta menghitung terlalu rendah kebutuhan karbohidrat.