Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini tidak lagi sekadar wacana teknologi. AI telah menjadi kekuatan yang membentuk ulang cara manusia berkomunikasi, memproduksi informasi, hingga membangun opini publik.
Di tengah arus tersebut, batas antara fakta dan manipulasi kian tipis. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar terkait etika serta perlindungan hukum, seiring AI memungkinkan otomatisasi produksi konten, personalisasi pesan, hingga penciptaan realitas sintetis seperti deepfake.
Kemudahan yang ditawarkan AI membuka peluang besar bagi industri media dan komunikasi. Namun, pada saat yang sama, muncul risiko baru mulai dari disinformasi hingga pelanggaran privasi. Situasi ini dinilai menuntut pendekatan yang tidak semata teknologis, melainkan juga normatif.
Perspektif etika dipandang penting untuk memastikan penggunaan AI tetap berpijak pada nilai kebenaran, transparansi, dan tanggung jawab. Di sisi lain, kerangka hukum juga dituntut adaptif agar mampu mengimbangi kecepatan inovasi yang terus berkembang.
Kesadaran atas kompleksitas tersebut mendorong dibukanya ruang dialog publik, salah satunya melalui talkshow bertajuk “AI untuk Anak Bangsa” yang diselenggarakan Unhas TV bekerja sama dengan TV Tempo. Kegiatan ini berlangsung di Studio Utama Unhas TV, Gedung BRI Microfinance Lantai 2, pada Senin, 20 April.
Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyampaikan perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai ruang produksi pengetahuan sekaligus penjaga nilai. Ia menjelaskan Unhas menempatkan literasi digital sebagai bagian penting untuk membekali mahasiswa menghadapi disrupsi teknologi.
Prof. Jamaluddin juga menegaskan perlunya keseimbangan antara penguasaan teknologi dan kesadaran etis. “Mahasiswa sebagai generasi muda harus mampu memahami dan memanfaatkan teknologi ini secara bijak untuk masa depan,” ujarnya.
Dari sisi industri media, Direktur TV Tempo Anton Aprianto menilai transformasi berbasis AI merupakan keniscayaan. Menurutnya, adaptasi terhadap teknologi perlu berjalan seiring dengan peningkatan literasi publik, sehingga dibutuhkan kesadaran kolektif dalam menyikapi disrupsi ini.
“AI memiliki banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan yang harus dipahami bersama. Melalui forum ini, kami ingin membangun kesadaran publik yang lebih luas,” kata Anton.
Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan dengan paparan narasumber, yakni Prof. Yudho Giri Sucahyo, S.Kom., M.Kom., Ph.D., CDPSE, CEH, CISA, CISM (Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia), Dr. Hasrullah, MA (Dosen Ilmu Komunikasi), serta M. Reza Suarga (kreator konten AI). Dalam kesempatan itu, para narasumber menyoroti pesatnya perkembangan teknologi AI yang disebut telah ada sejak 1980-an.